Ya jaman sekarang, adalah sebuah jaman yang penuh dengan perjuangan terkadang bisa sikut-sikutan antara satu samalain alias yang tadinya kawan bisa jadi lawan begtiu juga yang tadinya lawan bisa jadi kawan, ada juga sebagian orang mengatakan inilah jaman dengan puncak dari segala keedanan dan keegoisan serta kebohongan dari wataka seorang manusia.
Jangankan orang lain saya saja ketika menyaksikan acara yang menyangkut kehidupan orang lain yang hidupnya susah terkadang saya menangis dan teriris melihatnya rasanya saya ini terlalu sombong dengan segala keinginan dan ketidakacuhan untuk mensyukuri nikmat yang ada, padahal Tuhan telah membukakan jalan bahwa sesungguhnya hidup saya yang ada sekarang adalah yang terbaik dan lebih baik dibandin orang yanada ada di TV tersebut.
Dulu rasa setia kawan dan tergerak untuk melakukan sesuatu rasanya masih saya miliki, melihat teman sakit rasanya kita juga merasakannya tapi sekarang entahlah ada apa dengan saya, membiarkan mereka dan acuh tak acuh alias masa bodoh itulah yang ada dalam setiap pikiran saya toh selama ini mereka juga cuek dengan apa yang kita lakukan selama ini.
Sejatinyakita sebagai mahluk Tuhan yang berjiwa sosial pastinya akan selalu membutuhkan bantuan orang lain, tapi ketika sebuah upaya dan jerih payah dipandang karena hanya sebatas memanfaatkan kemampuan yang ada dan ketika kita berada dalam sebuah keterpurukan mereka menjauh sungguh hidup itu tidak adil ketika mereka bisa menikmati hasil dari jerih payah seseorang yang berada dibalik panggung.
Seorang teman pernah bercerita bagaimana dirinya berubah dari watak yang selalu menolong sesama teman kini lebih baik bersikap masa bodoh dengan keadaan, dia mengakui bahwa sesungguhnya hatinya tak ingin seperti itu tapi merekalah sendiri yang membuat dirinya seperti itu….selama ini dia berteman dan bersahabat tanpa embel-embel yang ada atau memanfaatkan orang lain tapi terasa ditusuk ketika dia tahu bahwa begitu banyak omongan diluar yang tidak disangkanya begitu jelek terhadap dirinya terkadang yang pahit adalah mereka menutup mata disaat kondisinya membutuhkan bantuan mereka.
Saya hanya bisa berkata, kita adalah hanya sebatas kacung atau anak bawang atau hanyalah sebuah wayang dari sebuah permainan watak dan sifat dan prilaku “nafsu” mereka yang mempunyai “kelebihan” tapi sesungguhnya kita bersyukur karena ada hal yang tidak dimiliki mereka adalah kejujuran kita untuk tidak memakan orang lain dan mengerjakan dengan segenap hati….kita mungkin sengsara tapi kita kaya akan hati walau kini sekeras batu tapi hati kita akan selalu terisi dengan beningnya sebuah pemikiran untuk selalu berbuat baik kepada mereka dan seyakinnya kelak mereka akan menyesali akan perbuatan mereka kepada kita.
Ya hidup dengan pola pikir individualis emang penuh egoisme dan dendam tapi beruntunglah ketika saya menyaksikan sebuah suasan canda dan tawa disebuah kampung dimana anak-anak bisa menikmati kekurangan mereka dan bisa saling berbagi dengan keceriaan yang ada




Kalo keras gitu, mesti diapain yak, hehehehe…..
Posted by Raffaell | 30 April 2009, 03:36siang om….cepet bgt update nya…
sekedar sharing aja , menurutku egois itu perlu asal ga over aja…
Posted by mel | 30 April 2009, 04:02Wah saya setuju dengan openingnya…. Namanya juga manusia…
Posted by buJaNG | 30 April 2009, 04:0954L4M….K3N4L…
54L4M…4CT10N
JANGAN LUPA AJAK TEMAN2 ANDA MAEN2 KE BLOG SAYA YANG LAIN http://www.symb4h3.blogspot.com
T3T4P…53M4N64T…514P…ACT10N
Posted by coolk45 | 30 April 2009, 04:49hati, watak, karakter, semua bisa berubah tergantung keadaan dan situasi yang mempengaruhi.
Tinggal kita pandai2 saja mengatur hati ini,
kalo sampe kayak temennya yg udh gak suka nolong org itu… waah bahaya
Posted by ekaria27 | 30 April 2009, 05:49kadang niat kita baik tapi ditafsirkan lain om sama orang lain
Posted by dafhy | 30 April 2009, 05:59waduh…hati-2 om…abis dikutuk oleh ibunya malin kundang ya…:-)
Posted by gwgw | 30 April 2009, 07:17oia..mampir deh om…kangen ama kritikannya nih…:-)
thx so much ya…
Posted by gwgw | 30 April 2009, 07:19meski lebih banyak interospeksi, karena kadang apa yang dilihat sangat beda dengan kenyataannya, dan makin sadarlah saya yang hanya sebagai wayang dalam lelakon besar kehidupan…, serta kekerasan tantangan kehidupan pastilah mengubah hari demi hari arah, pandangan dan persepsi atas yang kita lihat, mungkin semuanya adalah persaingan dan cara mempertahankan hidup masing-masing…
Posted by suryaden | 30 April 2009, 07:57waduh ya jangan keras banget kaya batu om…
bisa keras, bisa cair…tergantung konteks aja. bisa menempatkan diri lah…
Posted by geRrilyawan | 30 April 2009, 10:21harus banyak liat kebawah…^^ supaya lebih banyak bersyukur,,btw blog ini saya link di blog saya ya..thx
Posted by Kus Andriadi | 30 April 2009, 10:41dulu jaman batu karena peralatan dari batu, sekarang hatinya yang membatu, sama-sama batu
Posted by sunarnosahlan | 30 April 2009, 12:13itulah susahnya mas (terutama buat saya) bahwa tulus ikhlas bekerja sepenuh hati kdang sngat susah dilakukan..
Posted by zenteguh | 30 April 2009, 18:24Egois itu relatif.. Bagi yg gak ngerti tujuan dan cara pikir pasti kita di bilang egois.
( aduh ngemeng c gw ih..
)
Posted by aspirasiputih | 30 April 2009, 21:10individualis? wah.. lebih berasa lagi kalo tinggal di megapolitan sekelas jakarta.. –> ini makanya saya makin pengen keluar dari jakarta
Posted by Billy Koesoemadinata | 1 Mei 2009, 01:55Egois itu bagian dari kesombongan mas …
Posted by Rindu | 1 Mei 2009, 02:11Banyak menangis* dan mengingat maut melembutkan hati yang keras…
Banyak tertawa mengeraskan hati…
banyak berdebat mengeraskan hati…
*) Menangis mengingat dosa2 yang telah kita lakukan dan mohon pengharapan ampunan dari Allah Subhana wata’ala.
Maaf mas comentnya kebanyakan mending buat posting sendiri aja kali ya…
Posted by Abdul Ghofur | 1 Mei 2009, 03:27Sahabatku gelisah
Ketika hatinya tak kunjung basah
Saat berada di ruangan di mana sahabatnya tergolek pasrah
Dia gelisah
Kenapa hatinya seolah keras
Dia sedih
Dan dengan itu aku tahu
Sebenarnya hatinya tak sekeras batu
Posted by achoey | 1 Mei 2009, 04:37egois itu cm bs sembuh dari diri org itu sendiri om.. agak susah klo terus dijejali nasehat..
Posted by snepylone | 1 Mei 2009, 10:43egoisme akan menghancurkan diri
Posted by Menik | 1 Mei 2009, 10:43mudah mudahan blue tak pernah egois ya hehehhe….
selamat malam omiyan
salam hangat dalam dimensinya blue
main kezedot aza ya……
Posted by kezedot | 1 Mei 2009, 14:28hati sekeras batu jangan sampai jatuh, bisa pecah berkeping2… lembutkan hati dengan sll bersyukur kepada-Nya
Posted by guskar | 1 Mei 2009, 16:05Berbuat baik pun juga memerlukan kesabaran dan ketulusan. Saat perbuatan baik kita dibalas dengan keburukan, tak berarti kita lantas berputus asa untuk kembali berbuat baik dan menyelimuti hati dengan sikap tak peduli.
Posted by racheedus | 1 Mei 2009, 16:10bermain dengan anak yatim/piatu akan mebuat hati ini lunak dan banyak mendapat pelajaran hidup
Posted by IHSAN | 2 Mei 2009, 13:34manusia.. manusia..
penuh nafsu dan emosi, tp itulah kelebihan manusia
Posted by indoneter | 2 Mei 2009, 23:00ya! manusia, cerdik & pandai terkadang membawa mala petaka,
Posted by udien roy | 3 Mei 2009, 00:14Salah satu bentuk Keegoisan manusia… memang wajar…
Posted by wahyu ¢ wasaka | 3 Mei 2009, 01:55hati keras karena terbiasa, begitu pun juga hati yang lembut karena terbias.. tapi bagimana untuk membiasakan hati itu
Posted by almascatie | 3 Mei 2009, 04:56jadi inget kemaren pas di busway, om. ada cowok berbody kekar merangsek kursi, berebut dari mbak-mbak yang bawa bawaan berat. waktu itu saya mikir, koq ya tegal betul ya dia mendahului mbak-mbak itu buat duduk, padahal si mbak lebih layak duduk di kursi…
trus pas masuk ibu-ibu gendong anak, nggak ada satupun yang tergerak buat memberikan kursinya buat si ibu…
Posted by Infinite Justice | 3 Mei 2009, 06:10jangan mengambil haknya batu..ntar dimarahin… hehehe…hati sudah dikasih selembut2nya masa mo disamain sama keasnya batu
Posted by Harsa | 3 Mei 2009, 08:14itulah perlunya kita bisa membedakan
mana ego dan mana superego
Posted by Rusa Bawean™ | 3 Mei 2009, 11:58Kata ikhlas sudah menghilang dari perbendaharaan kata kita…
Posted by itempoeti | 3 Mei 2009, 13:40Ibarat pepatah,, air yang menetes di atas batu terus menerus, bisa juga melubangi si batu pada akhirnya ..
Ini kutipan bebas, karna saya lupa kata-kata yang benar ..
jadi mungkin perlu ditetesi, lagi …?
Karena toh, sebelumnya batu ini adalah batu yang lunak kan ??
Posted by Muzda | 3 Mei 2009, 18:26Kekerasan hati tidak bisa dilunakkan oleh kekerasan tangan, sentuhan lembut mungkin akan sedikit menggugah hati nurani yang membatu…
Posted by di4z | 3 Mei 2009, 20:44misi numpang blog walking doang
Posted by and1k | 4 Mei 2009, 02:48kadang.. Hati itu merasa nyaman.. tentraamm.. dan kadang juga down.. (walah?!)
salam silaturahim…
Posted by angga erlangga | 4 Mei 2009, 04:29Jernihkan hati dengan cinta, mencari teman itu susah bila untuk teman duka!
Sekarang bukan teman yang kita cari Om, tapi seorang penyerta dalam perjalanan kehidupan, mereka yang merasakan dan mengerti kita dan Alhamdulillah The Genk masih Solid
Posted by Aden Kejawen | 4 Mei 2009, 05:00semoga kita semua senantiasa memiliki hati yang lembut yaa
Posted by Elsa | 4 Mei 2009, 05:01Wach betul tu Om….
Posted by M. Surya Ikhsanudin | 4 Mei 2009, 05:02sohib merupakan kebutuhan, dimana kebutuhan itu haruslah bisa dipahami dan dimengerti…
cuman kadang bagi sebagian orang, persahabatan itu adalah keuntungan. kalo gak untung gak mau bersahabat.
Posted by zulhaq | 4 Mei 2009, 13:17namanya juga masnusia kalau hawa nafsu selalu membuntuti
Posted by masnoer | 4 Mei 2009, 13:39hehehehehe.,.,,.
you are goooddddd boyyyyyyyy
Posted by dono | 4 Mei 2009, 13:53Segala sesuatu itu rentan perubahan, yang paling sulit adalah menjaga konsistensi
Posted by tengkuputeh | 4 Mei 2009, 15:32ke luar negeri aja yang orang indonesianya dikit kayak disini.di jamin kekerabatan dan persahabatan terpupuk…heee
Posted by boyin | 5 Mei 2009, 01:50karena batu dah semakin sulit sekarang….hatipun di jadikan batu.
*lho koq
Posted by idana | 5 Mei 2009, 04:41hidup terombang ambing. dan butuh waktu untuk memulihkannya. berat pokoknya mas.
Posted by agustriku | 5 Mei 2009, 10:49hidup ini bagaimana kita menyikapinya saja, dan jangan hanya berpikir soal hidup di dunia ini saja karena penting mempersiapkan diri untuk kehidupan abadi kita nanti stelah Allah mengambil nafas yg dititipkan
Posted by 1nd1r4 | 6 Mei 2009, 03:16