Beranda > Aku & Celotehku > Ayo Nak….

Ayo Nak….

Masa bermain buat seorang anak adalah hal yang sangat menyenangkan apalagi permaianan tersebut bisa dilakukan bersama sama tanpa ada yang musti rebutan atau rewel sama sekali. nah selain itu dengan bermain menumbuhkan jiwa sosial seorang anak karena disana dia bisa berbagi dan meminta yang menjadi kebutuhan dalam permainan tersebut.

Tapi…ada tapinya, terkadang dalam bermainpun kita musti waspada karena biasanya ditengah-tengah permainan atau ketika mereka sedang asyik bermain biasanya selalu ada saja masalah bisa karena rebutan barang mainan itu sendiri atau prilaku dari anak-anak itu sendiri semisal biasanya dalam kelompok tersebut selalu ada anak yang menjadi biang masalah trouble maker istilahnya, karena jika kita perhatikan KETIKA DUA ANAK BERMAIN DIPASTIKAN UNTUK REBUTAN AKAN BARANG AKAN LAMA TAPI JIKA ANAK ITU BERMAIN LEBIH DARI DUA MISALKAN TIGA ORANG DIPASTIKAN SALAH SATU AKAN MENGAJAK TEMAN SATUNYA UNTUK MENJAUHI SALAH SATU DARI MEREKA.

Nah itu pulalah yang membuat saya, istri dan si mba yang selalu menjaga ketika anak bermain terlebih bermainnya itu diluar rumah atau di jalan dan mereka banyakan ketika bermain.

Kenapa selalu saya awasi karena ada beberapa hal yang saya jaga :

  1. Jelas sekali bermain dijalan rentan dengan kendaraan yang lewat terlebih anak kecil aja sekarang sudah bisa bawa kendaraan roda dua dan biasanya bawanya ngebut.
  2. Jangan sampai anak sembarang main alias tangannya menyentuh barang yang tidak dia kenal semisal kotoran tanah yang kemungkinan telah dikencingi tikus atau kucing.
  3. Mengawasi bukan berarti membatasi aktifitas lho justru kita mengarahkan agar tidak salah
  4. nah yang ini adalah menjaga prilaku anak kita yang salah terhadap teman-temannya.

Terkadang jika kita perhatikan kita suka melepas anak ketika bermain atau si mba yang mengasuh suka cuek terhadap kondisi anak.

Sebuah pengalaman pribadi yang tidak pernah saya lupakan adalah ketika saya masih kecil saat itu saya sedang bermain balok-balok kayu yang ringan dengan anak tetangga tapi tanpa diduga balok kayu yang dipegang oleh teman saya tersebut justru dilempar ke arah saya dan mengenai pelipis sebelah kanan dan untungnya tidak mengenai mata hanya beberapa senti….

pernah saya menyaksikan seorang anak tetangga yang mencubit anak tetangganya, dan ketika dicubit menangislah anak tersebut dan melaporkan kejadian tersebut ke ibunya, tapi ketika ditanya anak yang mencubit berbohong dan mengatakan Bukan saya bu….

Dari sini kita bisa melihat dengan tetap mengawasi anak kita bisa menumbuhkan sikap Sportifitas, Kejujuran dan saling menghargai sesama temannya, bukan berarti mengekang atau membatasi kreatifitas justru dengan kita dampingi membuat anak bisa tahu batasan yang boleh dan tidak juga menjadikan dirinya tahu betanggung jawab.

Masih ingat kan tentang iklan suatu pasta gigi dimana seorang anak diajak oleh ayahnya untuk memperbaiki sepedanya dengan jargon yang cukup familiar ditelinga kita yaitu :

….AYO KITA PERBAIKI…

Sekilas kita bisa tahu bahwa bermain bisa sekaligus belajar buat seorang anak, dan saya pun pernah mencoba hal tersebut jadi saya ajak fania dengan kesibukan saya ketika lagi memperbaiki lampu emergency yang rusak dan mengajak fania bermain gerimis hujan tatkala saya sedang menyiram bunga.

Bagaimanapun pertumbuhan anak akan lebih baik jika orang tuanya selalu meluangkan waktu buat anaknya…

Mohon maaf tulisan ini tidak bermaksud mengguruim hanya berbagi yang pernah dilakukan dan saya sendiri masih dalam tahap belajar dalam membimbing anak.

Salam hangat….

  1. 17 Oktober 2009 pukul 04:21 | #1

    biarkan anak-anak menyelesaikan amsalahnya sendiri om… kalau saya mah gitu. kecuali kalau udah kelewatan baru orang tua ikutan turun tangan. itu pun sebatas mengawasi dan menasehati… saya lebih suka mengenalkan anak-anak akan masalah, atau menghadapi konsekuensi apa yg telah mereka perbuat…

    tega-tegaan juga sih, namuns aya dibesarkan dengan cara begitu ya begitulah saya membesarkan anak-anak

  2. 17 Oktober 2009 pukul 05:00 | #2

    Tidak Oom, tulisan ini tidak menggurui.
    Ada bebarapa hal yang saya setuju akan poin2 diatas.
    Kadang kita melepas anak hingga mereka tumbuh seperti bunga liar saja di taman.
    Padahal dengan pengawasan yang “tepat” dalam arti kadarnya pas, maka sportifitas juga kejujuran itu bisa timbul.

    Lalu mengenai bermain bersama justru bisa belajar, SETUJU sekali. Teringat dulu bapak ngajak saya ngerapiin buku2 di meja belajar, nemu buku yang kertasnya masih banyak. Itu kertas2 kita gunting, eeeh malah bisa bikin baru :) saya belajar bahwa kreatifitas itu bisa timbuk bahkan dr barang sisa. Kebayang kan kalo saya disuruh rapiin meja belajar pasti ogah.
    Namun krn ditemenin, diajak maen.. eeeh malah ada momen kebersamaan juga sesi pembelajaran disitu :)

    Nice writing Oom!

    salam, EKA

  3. 17 Oktober 2009 pukul 06:26 | #3

    tulisan yang menarik dan bermanfaat oom…
    anak memang harus diberi kebebasan, tapi bukan tanpa kontrol. jangan biarkan mereka lepas tanpa kendali, seperti lepasnya anak panah dari busurnya

    thanks sudah berbagi ini, I like this so much

  4. 17 Oktober 2009 pukul 06:48 | #4

    ketiga xxx

    membimbing anak memang harus bijak, terlalu ketat bisa membuat matinya kreatifitas dan inisiatif, terlalu longgar bisa lepas kendali, be a good parents

  5. 17 Oktober 2009 pukul 07:34 | #5

    Iya, betul om, memang idealnya pertumbuhan seorang anak harus bisa diawasi dan diarahkan secara terus menerus oleh orang tuanya secara langsung, tetapi terkadang kenyataan hidup tidak bisa seideal itu…jadi beruntunglah bagi orang2 yg bisa mendampingi anak2 mereka dalam keseharian, dan manfaatkanlah kesempatan itu sebaik mungkin…

    Terima kasih sharingnya om.

  6. 17 Oktober 2009 pukul 07:37 | #6

    Gak menggurui, kok.
    Emang seperti itu seharusnya. Mengawasi bukan berarti membatasi ruang gerak mereka.

  7. 17 Oktober 2009 pukul 07:52 | #7

    saya belajar banyak dari pemilik blog ini. meski saya belum berkeluarga, tapi kecintaan saya terhadap anak-anak begitu besar. tawa dan tingkah polos mereka menjadi pelipur lara.

  8. 17 Oktober 2009 pukul 10:35 | #8

    anak yang soleh bisa menjadi penolong kita dikala kita telah berpulang, demikian pula sebaliknya.
    mari kita awasi dan arahkan anak-anak kita dengan benar. :)

  9. 17 Oktober 2009 pukul 11:50 | #9

    ayo pah…………

  10. 17 Oktober 2009 pukul 11:51 | #10

    ayo om…

  11. 17 Oktober 2009 pukul 11:52 | #11

    selamat malam om iyan
    membuat saya semakin merindukan kehadiran anak

  12. 17 Oktober 2009 pukul 11:59 | #12

    saya sudah praktek pokoke :D

  13. 17 Oktober 2009 pukul 12:50 | #13

    Bahagianya Fania dan adiknya! Urusan mengasuh anak memang tak semudah waktu “membuatnya”. Namun semua bisa melakukan, asal ada niat dan kemauan. Tul gak Om?

  14. 17 Oktober 2009 pukul 12:54 | #14

    Semoga yang masih punya balita baca tips bagus ini…

    Knapa Omiyan baru nulis sekarang setelah anak2 saya sudah besar? :D

  15. 17 Oktober 2009 pukul 13:03 | #15

    tulisan yang membantu orang laon untuk bisa turut memahami

  16. 17 Oktober 2009 pukul 14:42 | #16

    harus dipraktekkin nih pas saya sudah punya anak nanti. Hehehe

  17. 18 Oktober 2009 pukul 01:29 | #17

    saya adalah pecinta anak anak, tak ada yang lebih membahagiakan ketika saya memetik gitar ditengah lingkaran anak anak jalanan yang bengong terpesona. :)

  18. 18 Oktober 2009 pukul 13:33 | #18

    waaaah…
    makaci, nice post… bisa jadi bahan untuk belajar…
    **jadi pengen buru2 punya anak, hihihi**

  19. Ria
    18 Oktober 2009 pukul 13:58 | #19

    Bagus banget untuk pembelajaran terutama untuk kita2 yg akan jadi orang tua kelak atau untuk pasangan yg akan di karuniai anak…

    Thanks for sharing ya om :D

  20. 18 Oktober 2009 pukul 22:54 | #20

    Menyapa sahabat, selamat mengawali awal pekan dengan sebuah kesuksesan

  21. 21 Oktober 2009 pukul 10:12 | #21

    benullll itu om yang mencubit itu ya, uuuuuuggggghhhh….

    happen a few times gitu di depan mata. duluuu waktu anak tetangga masi pada kecil2 en suka nongkrong *settt dah nongkrong* dirumah. bingung kalu udah ada yang usil kelakuannya. dilema oh oh oh, mau dimarah dia mewek mana bukan anak saya pulak mau dibiarin kasian si korban.

    uuggghhhh

  22. 10 November 2009 pukul 03:10 | #22

    biarkan anak2 menyelesaikan masalahnya sendiri, krn sebentar lagi mereka akan dgn riang bermain bersama lagi.
    betul sekali, kita ortu tetap hrs mengarahkan agar tujuan menjadikan anak kita anak yg baik terwujud dgn mengenalkan nilai2 pd mereka.
    salam.

  1. Belum ada trackback.