Pernah suatu hari saya berdoa kepada Tuhan :
” Ya Allah jika boleh perkenankan aku menjadi sebuah cahaya buat keluarga ini, cahaya ditengah kegelapan dan aku rela jika nyawa ini menjadi taruhan agar kelak ibuku selalu bahagia …”
Menjadi anak yang dekat dengan ibunya bukan impian saya tapi menjadi anak yang bisa berguna alias bermanfaat untuk ibunya itu adalah harapan saya, walau ketika dalam kehidupan nyata terkadang semuanya harus berbenturan dengan kondisi yang ada.
Mungkin ada benarnya juga ketika kita masih bujang dan sudah bisa mencari penghasilan sendiri sebaiknya manfaatkan untuk bisa membalas budi kedua orang tua terutama ibu yang mengandung dan mengasuh kita karena ketika kita menikah dan telah memiliki pendamping haruslah sebuah “komitmen” kita buat agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara keduanya (Istri dan ortu kita).
Bicara masalah adil dalam berbagi kasih sayang terkadang hati saya merasa pedih dan malu karena belum bisa berbagi memberi sebuah senyuman kepada ibu saya apalagi bisa memenuhi keinginannya, yang ada saya hanya membuat beliau sedih dan merasakan keterasingan diantara kehidupan anaknya sekarang.
Terkadang saya merasakan bahwa Beliau tidak mau menjadi beban untuk anak-anaknya walau pernah saya berapa kali mengatakan…
” Mamah adalah tanggungjawab saya, mumpung saya masih sanggup dan ada didunia ini, karena jika bukan saya siapa lagi “
Saya pernah menangis tatkala membayangkan jika suatu saat dunia ini hancur dan manusia dihisab berdasarkan amalannya masing-masing mungkin saya tidak akan pernah mampu melewati Jembatan Siratul Mustaaqim yang ada saya sudah jatuh ke Neraka paling dalam …. saya takut akan nada ucapan saya membuat siksa di neraka kelak makin terasa pedih.
Dan kemaren saya merasakan sedih yang amat sangat saya seperti disadarkan untuk lebih memperhatikan kondisi Ibu saya, pertama kali saya merasakan sakit karena ibu saya selalu memendam suatu kejadian yang menimpanya dan kemaren saya melihat dipelipis kirinya bengkat sebesar telur karena Beliau terjatuh dari ranjang dan kepala membentur keramik …..
Saya malu……
Melaksanakan perintah Tuhan ternyata tidak pernah gampang, membuat sedikit orang tua tersenyum ternyata tidak mampu dan yang ada adalah rasa sakit dihati mereka.
Maafin saya mah…..





Emang setiap orang tua selalu ingin anaknya bahagia, dia tidak mau membebani anak2nya, itu semua tinggal kita sebagai anak bagaimana caranya agar orang tua kita bahagia…
Posted by dafiDRiau | 22 Maret 2010, 05:30Saya jg baru sadar, ternyata membahagiakan orang tua gak semudah mengucapkannya. Krn pasti ada kelakuan atau ucapan kita yg tanpa sadar malah menyakitinya, berbeda dr tujuan qta sbnrnya yg ingin membahagiakannya…
Sama2 belajar yuk Om, utk terus bs membahagiakan ortu
Posted by ernit | 22 Maret 2010, 08:59jadi malu banget baca artikel ini.
rasanya sy blom pernah kasih sesuatu buat ibu
thanks diingatin
.
Posted by zon | 22 Maret 2010, 09:56Semoga semua Ibu diberikan kesehatan dan kekuatan…
Sisanya baru buat yang lain…
Posted by marsudiyanto | 22 Maret 2010, 10:41anak yang baik selalu menjaga ibunya sampai akhir hayat. ibumu, ibumu, ibumu, lalu bapakmu.
Posted by diazhandsome | 22 Maret 2010, 11:04terima kasih atas tulisannya ,,
sungguh telah mengingatkan saya
Posted by Abula | 22 Maret 2010, 15:02iya semua ortu akan begitu ya. gak mau membebani anak2nya. padahal kita juga gak akan merasa beban karena itu kan ortu kita sendiri…
Posted by arman | 22 Maret 2010, 17:14” Mamah adalah tanggungjawab saya, mumpung saya masih sanggup dan ada didunia ini, karena jika bukan saya siapa lagi “ … -like this-
every day of my life, I want to make my mother happy … although it was difficult.
Salam CeLoTeh …
Posted by dindaagustriyana | 23 Maret 2010, 01:30I love my mum
Posted by jun | 23 Maret 2010, 02:35saya juga mau minta maaf sama mama…
Posted by indra1082 | 23 Maret 2010, 06:33hebat bos jadi mikir nih
Posted by koplak | 23 Maret 2010, 08:19subhanallah
Posted by soewoeng | 23 Maret 2010, 08:21kapan2 bahagiain emak gw…
Posted by bee | 23 Maret 2010, 15:55masih ingat kah tentang “surga di bawah telapak kaki ibu”
Posted by cipstuff | 23 Maret 2010, 16:15ibu tetaplah nomor satu untuk kita jaga dan menyenangkan hatinya, makasih bang postingan ini sungguh mengena buat saya
Posted by Abdi Jaya | 23 Maret 2010, 16:35Memang susah membuat orang lain tersenyum bahagia.
Semoga sukses berupaya.
Salam superhangat
Posted by cenya95 | 24 Maret 2010, 07:39Beruntung kita-kita yang masih mempunyai kesadaran seperti OM, aewbelum semuanya menjadi terlambat.
Posted by Eko Deto | 24 Maret 2010, 11:13tetap semangat !
semoga dimudahkan dalam segala upayanya
Posted by Usup Supriyadi | 25 Maret 2010, 05:47jadi in9et ama ibu…
Posted by wi3nd | 25 Maret 2010, 07:54ma kasih atas tulisan yg mengingatkan tentang sosok seorang mama..
Posted by yuwaku | 25 Maret 2010, 12:12