Memang benar resiko pekerjaan yang berada diluar kota selalu datang secara tiba-tiba, apalagi resiko yang ditanggung berimbas kepada penghasilan yang nantinya dipotong.
Kalau kita terlambat masuk kerja karena faktor kesengajaan misalkan sengaja datang siang atau emang kebiasaan buruk tersebut tak bisa lepas pantas bila tak diberikan kata ampun atau kata lembutnya tak termasuk kriteria diberikan dispensasi. Namun apa jadinya jika alasan terlambat adalah benar-benar karena kondisi jalanan di jalan tol yang sering kali diluar prediksi kita misalkan macet karena kecelakaan atau karena adanya penyempitan jalan akibat sedang diperbaikinya jalan tersebut.
Kisah ini adalah lanjutan dari kisah sebelumnya yang berjudul Kisah Jempol Tangan dan Finger Print, dan masih dialami oleh sahabat saya tersebut.
Jadi pada hari senin dibulan Agustus, seperti biasa sahabat saya tersebut berangkat seperti jadwal biasanya, dan dijalan tolpun disekitar kilometer pertengahan jalan menuju kantor kondisi masih lancar namun kurang lebih 7 km menuju pintu keluar tol kedapatan jalanan macet karena dari siaran radio swasta dijelaskan terjadi kecelakaan di tol yang menuju arah jakarta, bisa dibayangkan dengan waktu yang sudah menunjukkan pukul 7.15 terjebak kemacetan sedangkan waktu normalnya jam segitu sudahmau sampai kantor.
Namun resiko dari sebuah kemacetan akhirnya terjadi dimana sahabat saya tersebut tiba dikantor sekitar pukul 07.40 WIB dan sudah dipastikan terlambat karena paling telat tiba dikantor adalah 07.30 WIB.
Berharap adanya dispensasi atas keterlambatan tersebut namun setelah kabar yang didapat bahwa dia akan kena potongan walau alasan yang diberikan masuk akal terlambat karena adanya kecekaan dijalan tol.
Mungkin jika ini menimpa saya atau anda, akan merasa adanya ketidakadilan karena keterlambatan dijalan akibat macet adalah diluar perkiraan dan siapapun yang BERNIAT MENCARI NAFKAH tidak mengharapkan adanya KATA terlamabat masuk kantor.
Namun karena aturan birokrasi yang menentukan seperti itu, kekecewaanlah yang ada walau sebelumnya kita telat dan tetap bekerja seperti biasa tetap tidak akan ada dispensasi apapun.
Dan saya hanya bisa berujar SUNGGUH IRONIS, kalau menimpa saya seperti itu lebih baik saya tak masuk kerja sekalian dan baru abse sore hari hahahahahahahha.
Tapi ya sudahlah ini adalah sebuah resiko dari perjalanan dalam mencari sesuap nasi yang penting niat kita benar-benar kerja bukan sebatas absen ada tapi gaib alias menghilang setelah ngabsen dan untuk lebih berharap banyak kepada Yang Kuasa agar jalanan tak selalu macet diwaktu kerja.




Yang namanya resiko memang nggak kenal waktu dan tempat Om…
Memang sich, ada waktu dan tempat yang resikonya lebih besar.
Tapi mau gimana lagi?
Kita ada di waktu dan tempat yang itu…
Salam!!
Posted by marsudiyanto | 27 Agustus 2010, 08:16Betul mau teriak tidak mau pun kondisinya sudah seperti itu….hahahah ngebayang aja kumis bos yang tebal sudah naik melwati hidung berdiri didepan pintu kekekekek
Posted by omiyan | 27 Agustus 2010, 08:51wahhh .. untung di solo belom macet…
besok2 lagi mesti bawa helicopter kali ya..?
Posted by gadisjeruk | 27 Agustus 2010, 10:50(Maaf) izin mengamankan KEEMPAX dulu. Boleh, kan?!
Resiko, dimana dan kapan saja selalu ada.
Posted by alamendah | 27 Agustus 2010, 13:27Jalan macet, bisa tua di jalan…
Posted by Asop | 27 Agustus 2010, 13:27ini juga pernah saya pikirkan,
andaikata berangkat 1 jam sebelum kejadian macet itu terjadi,
mungkin…
Posted by mawi wijna | 27 Agustus 2010, 18:50kalo naek sepeda emang boleh masuk tol om? hahaha… di kantorku juga banyak yg sering2 lari2 dari jembatan hotel kartika chandra kalau udah mepet jam 7.30 hehehhe
Posted by Erikson | 27 Agustus 2010, 20:51emang sial engga kemana pak! sudah berangkat sesuai jadwal dan rentang waktu yang cukup, masih kena macet kecelakaan.
Posted by kelly amareta | 28 Agustus 2010, 01:56apapun pekerjaannya, jauh dekat, pake motor ataw mobil sekalipun…risiko tetap aja akan sejalan dengan kita sebagaimana garis paralel…..
Posted by Inside Belitung | 28 Agustus 2010, 04:29macet parah dimana mana, rasanya belum ada solusi juga menangani ini, saya berpikir seandainya semua perempuan dirumah hanya mengurus suami dan anak2 mungkin 1/2 masalah kemacetan bisa teratasi …
Bukankah surganya perempuan itu dirumah
Posted by Rindu | 28 Agustus 2010, 05:33Susahnya kalau peraturan dah diserahkan pada sistem yang kaku. Mesin yang tanpa ampunn. Ya gitu jadinya
Posted by achoey | 28 Agustus 2010, 07:35hiiii
dalam beberapa bulan, saya akan ngalamin hal kek gini nih
berkejaran dengan waktu demi kotak hitam terkutuk!
wew!!
Posted by deady | 28 Agustus 2010, 10:51untung ane bukan orang jakarta.. kagak kena yang beginian…
Posted by balita | 28 Agustus 2010, 13:15whahahaha…
iya Om. kalau udah telat, mending ngacir sarapan, jalan2 ke mall sekalian.
untung sekarang kuliah, santai ^_^
Posted by bocahcilik | 28 Agustus 2010, 15:21Macet sudah biasa, walaupun dampaknya jadi tidak biasa.
Tapi.. Ya sudahlah.. .
Posted by Mood | 28 Agustus 2010, 16:28resiko kerja di kota besar om
coba kerja di bukittnggi pasti ga macet. hehehe
Posted by fanz | 29 Agustus 2010, 07:45saya jadi teringat saya sendiri yg selalu telat setiap hari…faktornya klasiklah karena macet dan bangun kesiangan..
untunglah saya bsa masuk ke server absensi yg pake finger, jadi tinggal saya ubah dari meja kerja saya hahahahahaha….. *maaf bossss*
pakabar om iyan, lama tak kemari?
salam, ^_^
Posted by Didien® | 29 Agustus 2010, 13:44untunglah ane bukan pekerja kantoran hehehe
Posted by Kuker | 29 Agustus 2010, 13:45kantor saya kalo telat langsung di SP,gahwat yah…
Posted by Caride™ | 29 Agustus 2010, 13:46Ironis memang… Sekarang sedang trend memiliki rumah dekat kantor. datang pagi cap jempol, kemudian istirahat di rumah hingga waktu pulang tiba untuk cap jempol lagi.
salam superhangat
Posted by cenya95 | 30 Agustus 2010, 01:03untung kantor saya ada dirumah, jadi bebas macet…hehehe
Posted by 1nd1r4 | 30 Agustus 2010, 04:33yah, memang resiko mas, agar kita selalu disiplin. hihihihi
Posted by Odie | 30 Agustus 2010, 07:35this was good,12 ı’m gonna save this one
thank you xxx
Posted by barnaleikir | 2 Maret 2011, 17:24