” Yan mau beli beras ga, nih ada beras Pandeglang …. “
Sebuah sms masuk dari salah satu sahabat. Ga nyangka juga dia sekarang bisnis beras. dan seminggu kemudian akhirnya saya pesen untuk mencoba beras Pandeglang dan ternyata ga kalah juga dengan beras yang selama ini saya beli, selain itu cukup murah dibanding dengan yang ada dipasaran.
Satu bayangan yang salah tentang bisnisnya ini adalah tadinya saya kira dalam partai besar tapi ternyata usaha kecil-kecilan dimana setiap pesanan diantar dengan motornya.
Yang saya ceritakan adalah bukan tentang berasnya tapi tentang sahabat saya satu ini, bisa dibilang sahabat “sapapait samamanis” selama berada di serang banten (13-12-1999), mungkin selain faktor satu suku juga (sunda) tapi faktor keakraban semasa kampus dan sama-sama mau menderita membuat dia mau melakukan apapun yang penting halal.
Sebelum masuk kampus Plat merah bisa dibilang dia pernah ngerasain yang namanya menganggur dan bahkan jadi supir angkot dan itu dia jalani hampir setahun, sehingga ketika ada pendaftaran masuk sebuah sekolah tinggi ternyata doanya dikabulkan dan diapun masuk.
Selama sekantor dengan dia, bisa dibilang orangnya mau diajak kasak-kusuk. Maksud kasak kusuk disini kadang kita pernah sengaja jalan-jalan muterin serang via labuan tembus Pandeglang cukup dengan roda dua alias motor dan bisa dibayangin perjalanan selama 4 jam lebih harus dibayar dengan sakit punggung hahaha. Selain itu kita punya kebiasaan yang sama yaitu sama-sama doyan makan dipinggir jalan plus menyantap jengkol atau pete tak perduli kalau hari itu masih hari kerja, bisa dibayangkan ketika kita ngobrol dengan teman lainnya (hahahaha).
Namun seiring waktu akhirnya kita pisah juga, kebetulan dia dapat tempat di Cilegon dan setidaknya masih dekat dengan rumahnya dibanding saya lho. Dan dari situlah kita sudah mulai jarang komunikasi kalaupun sempet paling banten sms dan telpon. Dan kemarenlah kita bertemu kembali dan kini dia mencoba memulai bisnis beras dalam artian bisnis kecil dimana ada pesenan lagnsung diantar.
Ditengah terjangan “badai besar” tentang instansinya, saya percaya selama masih ada orang seperti dia, mental seperti inilah yang bisa mengembalikan citra tersebut. Mungkin diluar sana orang akan tercengang dan tak percaya bahkan mungkin mencibir ketika ada pegawai “kantor gendut” (menurut media, red) masih harus harus mengantar beras dengan roda duanya.
Terkadang orang selalu melihat sesuatu dari luarnya tapi itulah dunia yang selalu dipenuhi oleh rasa iri, dengki, kebencian, fitnah, kebathilan dan lain sebagainya. Tapi satu yang terkadang kita lupakan bahwa sebenarnya masih ada disekitar kita masih ada yang berusaha untuk tetap menjadi orang yang sederhana tanpa tergerus oleh kondisi yang ada dan jangan lupa sesungguhnya dengan kejadian ini makin membukakan mata kita jika ditempat lainpun ada yang sedang “berpesta” tanpa pernah tersentuh.
sapapait samamanis = susah senang ditanggung bersama




ngomong2 soal beras, saya prihatin dng naiknya harga pangan. harusnya nih ya… klo pemerintahan ngga egois, kita balik ke jaman pak harto. jaman ketika petani dihargai. ketika negri ini masih bisa mencukupi kebutuhan pangannya sendiri. bukan impor. ya ndak?
Posted by Bung Iwan | 22 Februari 2011, 05:07(Maaf) izin mengamankan KEDUAX dulu. Boleh, kan?!
Sahabatnya ini sudah pasti seorang pekerja keras yang jauh dari kesan gengsi.
Posted by alamendah | 22 Februari 2011, 06:25orang orang yang semakin langka di jaman ini…
Posted by joe | 22 Februari 2011, 06:51Wah…
Kalau dekat saya bisa langganan berasnya Om…
Pengin rasakan beras dari Jawa Barat…
Posted by marsudiyanto | 22 Februari 2011, 09:01semoga “badai besar” cepat berlalu.
Posted by ali | 22 Februari 2011, 22:34wah sahabatmu om. pekerja keras bener, mudah-mudahan bisa berhasil yaa
mas ada kaos blogger go green 45 ribu
disini mas http://cahyanugraha.wordpress.com/2011/02/20/kaos-blogger-go-green-for-sale/
Posted by Cahya Nugraha | 23 Februari 2011, 01:43Kang,saya jd trenyuh yeuh…inget ka batur saya,crita na persis tapi beda pagawean, cuma sayang babaturan saya ayeuna tos almarhum.
Rumpin-bogor
Posted by Wwn | 23 Februari 2011, 07:48itulah ciri-ciri orng yg bisa sukses.. Maju terus..!
Posted by Arashi Kensho | 24 Februari 2011, 03:31Subhanallah, banyak hikmah dari setiap cerita dan kejadian yahh
Posted by dina.thea | 24 Februari 2011, 08:02Menyentuh sekali, banyak hikmah yang bisa diambil dari cerita diatas
Posted by Aziz Hadi | 25 Februari 2011, 07:04Subhanallah…
Syukurlah, beliau mencari sampingan dengan bekerja keras
Btw, kantor gendut itu yang mana ya…?
Posted by Kakaakin | 27 Februari 2011, 03:20setuju om… masih banyak sodara2 kita di “kantor gendut (kata media)” tsb yang berkomitmen lurus, sederhana, yg kadang motor aja masih nyicil… tapi media sdh keburu mengeneralisasi, alhasil masyarakat pun b’anggapan yg sama… inilah… yg sederhana spt ini ga diangkat media, tapi yg mnyimpang (hanya segelintir gayus) yg diexpose besar2an… sungguh tak adil..
Posted by ufay | 14 Maret 2011, 04:33