Apa yang diharapkan dalam sebuah kehidupan bertetangga atau dilingkungan sekitarnya tentunya rasa damai, tidak ada kebencian dan hilangnya prasangka buruk.
Terkadang pula keegoisan masing-masing pihak sering menjadi tabir penutup rasa keinginan untuk bisa saling berbaikan atau sekedar bertegur sapa dikala bertemu, bahkan disuatu kesempatan menjadikannya sosok yang terpencil dilingkungan yang ditinggalinya.
Mungkin sahabat Blognya Omiyan pernah membaca kisah saya yang sedikit bermasalah dengan tetangga, dan jujur permasalahan ini membuat saya dan keluarga tidak merasakan ketenangan dan ternyata hal tersebut dirasakan juga oleh tetangga saya tersebut.
Keinginan damai yang ingin keluarga saya dapatkan ternyata diharapkan juga oleh tetangga tersebut, namun karena faktor ego yang selalu merasa diri paling benar sehingga membutakan sebuah kebaikan dalam bertetangga yang selama ini sempat terjalin hampir 7 tahun lamanya.
Akhirnya kegusaran yang terus melanda sepertinya menemui titik puncaknya, setelah berusaha meminta bantuan pihak ketiga sepertinya buntu maka dengan niat dan itikad baik kamipun menemui tetangga tersebut.
Ternyata benar istilah sesuatu yang tampak diluar belum tentu sama dengan dalamannya, dan itupun berlaku dengan tetangga kami tersebut. Suasana yang tadinya akan dirasa penuh ketegangan, kengototan satu sama lain ternyata tidak terbukti yang ada justru saling menerima jika sikap ego masing-masing selama ini justru membuat permasalahan semakin meruncing, dan menerima jika sikap selama ini salah serta diujung pembicaraan akhirnya terlontar ucapan untuk saling meminta maaf dan saling memaafkan.
Jujur inilah sebuah pengalaman hidup yang sangat berharga yang pernah saya alami, ternyata masalah yang sempat membuat kita harus saling berdiam diri tak bertegur sapa beberapa bulan bisa cair sedemikian rupa oleh hitungan menit.
Sikap keras yang sering ditunjukkannya selama ini ternyata ketika niat kita datang untuk menyelesaikan permasalahan (berbaikan kembali) bisa melunak bahkan dengan jiwa yang besar bisa saling memaklumi dan memaafkan.
Diakhir pertemuan kami yang hampir satu jam diakhiri dengan salam-salam dan berpelukkan dan ternyata kita sama-sama merasakan betapa indahnya ketika kita bisa berdamai dan mengakhiri sesuatu yang tidak ada manfaatnya.
Pernyataan yang kita pegang adalah komitmen untuk mengubur dalam-dalam permasalahan yang pernah terjadi dan memulai lembaran baru untuk bisa bersikap saling memahami dan bertoleransi……. Sungguh saya merasakan aura pertemuan yang membuat kami merinding tapi bisa tersenyum penuh kebahagiaan.
Teruntuk istriku, terima kasih……





Dengan lapang hati dan sikap yang ikhlas sudah pasti akan cepat menyelesaikan permasalahan
syukur jika semua itu sudah berlalu
Posted by anny | 10 Mei 2011, 06:26Alhamdulillah, indahnya
Posted by monda | 10 Mei 2011, 08:20Saya ingin menyumbangkan senyuman saya.. hihiii
Posted by giewahyudi | 10 Mei 2011, 09:14baru tau ini blog yang nangkring di blogroll ayahmahes
Posted by bundamahes | 10 Mei 2011, 09:26Saya juga sering kali menjumpai yang kek gini, Kang. yang tampaknya sangat menegangkan, tetapi ketika salah satu mau sedikit mengendorkan dan mengalah, yang satunya pun jadi ikut kendor dan balik mengalah. Malah lebih kendor dari yang punya inisiatif pertama.
Posted by alamendah | 10 Mei 2011, 09:46barangkali itulah romantika kehidupan dalam suatu rumah tangga, kadang kala terjadi pergesekan dan pertengkaran kecil, membuat hidup menjadi lebih dinamis
Posted by joe | 10 Mei 2011, 10:06permasalahan dalam keluarga memang sangat banyak dan komplek, tapi…semua itu tak bisa mengurungkan niatku tuk menikah..
Posted by tunsa | 10 Mei 2011, 10:07semoga menjadi pelajaran bagi yang belum menikah
Posted by joe | 10 Mei 2011, 10:07wahh keren..
memang betapa indahnya hidup damai,
meminta maaf, dan memaafkan adalah salah satu faktor munculnya kedamaian.
gak kebayang, kalau gak ada yg beritikad baik sama sekali, kira2 bakal sampe berapa lama tuh saling diem2annya..
Posted by gadis jeruk | 10 Mei 2011, 11:28harus ada tenggang rasa ya, kadang-kadang sih saya juga sedikit emosi dengan tetangga
Posted by Lidya | 10 Mei 2011, 12:01Hehe namanya juga berumah tangga, pasti rentan ada masalah. Apalagi kalo ekonomi :p
Posted by iam | 10 Mei 2011, 12:08indahya perdamaian….
indah pula kehidupan ini.
Posted by Sketsaku | 10 Mei 2011, 13:47Gak ada masalah tanpa solusi, ini yang musti kita pegang dalam mengarungi kehidupan. Justru dengan masalah itulah kita bisa semakin sempurna menjadi manusia.
Posted by M Mursyid PW | 10 Mei 2011, 15:51assalamu’alaikum…
wah jujur itu juga yang sedang saya rasakan, kini sayapun jauh lebih dekat dengan seorang teman yang sebelumnya jauh dan renggang,,,,
thank ya…
moga ihklas dalam melakukannya…
Posted by choirunnangim | 10 Mei 2011, 17:21iya kalo hidup bertetangga emang mesti banyak2 toleransi ya… soalnya kalo sampe marah2an ama tetangga kan malah gak enak ya…
Posted by arman | 10 Mei 2011, 17:28mantafs…………. biasanya pertikaian antar tetangga terjadi karena permasalahan anak-anak. alhamdulillah jika pertikaian telah berakhir. (saya daftar SERANG CROSS COUNTRY COMMUNITY facebook, mohon diaprove)
Posted by komuter | 11 Mei 2011, 01:59mantabbb,,, dach,,,
Posted by Belajar Forex | 11 Mei 2011, 02:46mantabbb ,,,,
Posted by Instafx School | 11 Mei 2011, 02:47Syukurlah permasalahan ini bisa diselesaikan dengan cara yang baik. Memang nggak mudah mempunyai tetangga yang kadang bertolak belakang dengan keinginan kita, tapi jika hal ini bisa dikompromikan maka senyum kebahagianlah yang yang akan diterima
Posted by Ifan Jayadi | 11 Mei 2011, 03:09islah itu indah
berdamai tumbuh tenang merekah
bertetangga adalah bersaudara
Posted by achoey el haris | 11 Mei 2011, 03:55