Gowes Sepeda Yuk – Seringnya melihat Gunung Karang dari kejauhan yang berdiri kokoh di singgasananya jika melintas di Jalan Tol Jakarta-Merak, membuat terbersit satu keinginan untuk bisa menyambanginya, apalagi jika bukan buat tujuan bersepeda.
Sabtu 13 November 2011 lalu keinginan itu pun terpenuhi, kami bertujuh dari BSD, saya, om Sanan, om Rudy, om Bambang, om Nando, om Gultom dan Yusuf yang masih kelas 3 SMA.
Dari Cordoba Nusaloka BSD dengan menggunakan 1 pickup dan 2 mobil penumpang kami berangkat jam 5.45 melalui Jalan Tol Tangerang, keluar tol Serang Timur, memotong jalan arah Petir untuk kemudian melalui pusat pemerintahan Provinsi Banten sebelum akhirnya masuk Jl Raya Pandeglang. Setelah melewati Baros-Cadasari akhirnya kami memasuki kota Pandeglang, kemudian menyusuri Jl Lingkar Pandeglang untuk sampai di sebuah tempat wisata air CAS Waterpark Cikole. Di sini kami parkir kendaraan, selain luas nyaman dan aman juga tersedia toilet bersih dan musholla. Tiba di Cikole tepat pukul 7.30. Dan setelah menyiapkan sepeda, pukul 8.00 kami sudah siap berangkat setelah sebelumnya sedikit melakukan pemanasan.
Dari Cikole, kita menyusur jalan ke arah timur dan kemudian menuju ke utara melalui jalan yang sempit, jalan yang dilalui mulai menanjak landai, terukur dari start di altitude +173. Sepanjang rute di desa Ciekek ini dikelilingi dengan hamparan sawah yang menghijau laksana karpet membentang hingga di cakrawala dan kaki Gunung Karang nun menanti disana.
Ada satu hal yang menarik di Pandeglang ini, yaitu banyak sekali makam-makam yang dikeramatkan, terlihat dari tiap pemakaman yang dilalui selalu ada kain putih yang melilit di nisan atau pohon rengas maupun beringin yang sangat besar dan rimbun.
Tak lama kami pun memasuki jalan ke atah Cilaja dimana di depan sana terlihat sang Gunung Karang yang seakan melambai untuk datang mengunjunginya. Jalan ini terus menanjak tanpa henti, lurus dan tidak berkelok, mengingatkan pada jalan yang menuju Gn Slamet di Baturaden maupun Gn Merapi di Kaliurang, lurus tanpa kelok dan terus menanjak tanpa ada jeda.
Meski menanjak, jalan ke Cilaja ini terasa sejuk dengan rimbunnya tanaman dan angin yang semilir berhembus. Pohon-pohon yang ada di kiri kanan jalan hampir semuanya adalah tanaman produktif bukan sekedar peneduh, semisal pohon cengkeh, melinjo dan pohon durian.
Sesekali bertemu penduduk yang ramah menyapa mau kemana dan dari mana, dan kalau sudah begini om Rudy dah yang paling bisa berbasa-basi dengan warga, selain piawai berbahasa Sunda juga jago mencari pokok bahasan dalam obrolan.
Jalan terus menjulang, kayuhan kaki mulai menggunakan gigi yang semakin membesar untuk memperingan kayuhan, untung jalanan cukup sepi, sehingga ketika jalanan yang menjulang tajam pun tidak bermasalah saat kita harus berjalan zig zag untuk memperkecil sudut tanjakan.
Sekitar 4 km melahap tanjakan tanpa henti, kami berhenti sejenak di depan SD Cilaja sambil menunggu teman yang masih di belakang. Mungkin bertepatan dengan jam istirahat, anak-anak sekolah dasar itu berhamburan keluar, riuh rendah suara riang mereka, berlarian, berceloteh dan sebagian mengerumuni sepeda yang bersandar di pagar sekolah mereka.
Begitu polos dan lugu anak-anak itu, berbalut seragam pramuka coklat, sebagian mereka tidak beralas kaki. Namun itu semua tidak menghalangi segala keceriaan dunia mereka.
Altitude menunjukkan angka +360 ketika teman yang di belakang sudah terlihat, kami pun melanjutkan kayuhan ke atas dengan sudut kemiringan yang semakin terjal. Jalanan yang sunyi , nyaris tidak ada suara apapun termasuk suara serangga, kecuali nafas yang terengah-engah mengarungi tanjakan aduhai di gunung karang ini.
Tepat di alitude +530 dengan jarak 6 km dari start kembali kami berhenti di sebuah warung sambil menunggu rekan di belakang. Sejurus kami melepas lelah sambil mengarahkan pandangan ke sekeliling yang dipenuhi tetumbuhan nan rimbun dan hijau, meski elevasi tidak terlalu tinggi namun sungguh, kesejukan alamnya sangat terasa, hembusan angin dan rumah penduduk yang luas namun berjauhan satu dan lainnya menerbitkan suasana pedesaan yang sesungguhnya, keramahan warganya menunjukkan Indonesia yang sesungguhnya.
Usai keletihan sirna, kami pun bergegas menuju titik desa terakhir di Gunung Karang ini yaitu Desa Pagerbatu, jalanan semakin bengis tanjakannya dan sudah tidak berupa jalan aspal namun jalan setapak dengan selingan makadam. Sudut terjal semakin berasa, hampir semua tanjakan di Pagerbatu ini membutuhkan waktu jeda sebelum melewati tanjakan berikutnya. Di Desa Pagerbatu ini terpampang jelas nun jauh di bawah sana Kota Pandeglang.
Di Pagerbatu ini altitude menunjukkan angka +623 m dengan odometer 8 km. Dari sini kita mengambil jalan ke arah Barat, menuju Banyumudu, dimana jalanan terasa agak gelap dinaungi rerimbunan pohon di kiri kanannya. Di Kp. Simpereum kami menemukan satu makam keramat, Syeh Rako..begitu yang tertulis di
depan makam. Dengung ribuan lebah terasa menggema ketika tiba di makam ini, entah dimana lebah-lebah itu berada karena rimbunnya pepohonan namun dengung yang konstan dan menggelitik telinga membuat suasana kurang nyaman, kami pun bergegas meninggalkan makam ini melanjutkan perjalanan.
Trek masih dihiasi dengan tanjakan maupun turunan yang variatif, sampai di Banyumudu kami masuk ke hutan Cempaka yang teramat rimbun, single trek yang menukik dan meliuk-liuk di sela pepohonan membuat sepeda melaju kencang, namun tetap harus waspada karena jalan setapak diselimuti lumut sehingga licin. Menakjubkan juga di tengah rimbunnya hutan tetap bisa dengan nyaman bersepeda di sela-sela pepohonan dengan diselingi meniti titian kecil maupun melompati batang pohon yang roboh…..bersambung.
Sumber tulisan : Gowes ke Gn Karang-Batu Quran Cikoromoy-air panas Cisolong, Pandeglang – Eko Siswanto




Perjalanan yang penuh dengan tantangan medah sebagai petualang anak jalanan Mas. Mengasyikan dan menambah wawasan sambil menikmati wisatabersepeda.
Sukses selalu
Salam
Ejawantah’s Bog
Posted by Ejawantah's Blog | 16 November 2011, 12:38wah, nanjak gunung (atau bukit ya?) keramat yg dipenuhi banyak makam keramat pasti suasananya sedikit “beda” ya oM? apalagi kalau malam2 >.<
Posted by mawi wijna | 17 November 2011, 09:29wah…saya baru tahu ini yang nulis bukan omiyan sendiri setelah baca di Facebook
Posted by mawi wijna | 17 November 2011, 20:09alun_alun,pandeglang
Posted by ii_271028pandeglang | 10 Februari 2012, 23:42