Saya Dan Keluarga

2 Analisa Dokter Yang Berbeda


Ini kejadian terjadi 2 tahun 7 bulan kurang lebih begitu soalnya ini terjadi sebelum fania (anakku) lahir, dan ini bisa saja dialami oleh siapa saja tanpa maksud mendiskriminasikan (bener ya nulisnya ?) profesi seorang dokter.

Ketika usia kandungan istri saya (bukan omiyan yah…catet..) dah nyampe sembilan bulan lebih seminggu, saya pastinya rajin cek dokter karena diusia itu udah waktunya istri melahirkan, pada hari sabtu (kalo ga salah) saya ma istri periksa kandungannya untuk mengecek gimana kondisinya dan kapan waktunya istri saya melahirkan. Akhirnya saya daftarin di sebuh RSIA di kota serang dengan dokter seorang perempuan.

Tapi ada hal yang tidak saya duga, ternyata dari hasil pemeriksaan bahwa kondisi istri saya untuk melahirkan normal sangat tidak mungkin dengan alasan tinggi badan yang tidak sesuai (istri saya tingginya 155 cm) dan akhirnya dokter menyarankan kepada saya agar istri untuk segera melakukan operasi cesar…..hhmm buat saya pribadi demi keselamatan istri dan jabang bayi tanpa berpikir panjang saya secara tidak langsung setuju dengan saran dokter tersebut kemudian saya menanyakan biaya operasi tersebut dan kurang lebih saat itu antara 5 juta hingga 10 juta tergantung fasilitas yang dipake.

Tapi untungnya saat itu saya tidak langsung mengiyakan untuk menyetujui operasi karena istri minta waktu tuk berpikir, sungguh saat itu terlihat istri saya sedih dan sempet menangis karena pengen sekali melahirkan secara normal. Akhirnya beberapa hari kemudian tanggal 25 Juli 2006 jam 07 malam saya cek lagi dengan rumah sakit yang sama tapi dokter yang beda yaitu dokter laki-laki dengan inisial S, dan inipun diluar dugaan saya, ternyata dokter S ini malah mengatakan kebalikannya bahwa istri saya bisa melahirkan secara normal karena kondisi tinggi badan mendukung dan kandungan juga bagus dimana posisi kepala bayi sudah dibawah, dan akhirnya saya diberi obat untuk memberikan kekuatan tatkala telah terjadi interaksi mau melahirkan.

Jam 11 malam (masih tangal 25 Juli 2006) kandungan istri sudah menunjukkan pembukaan pertama dan pada jam 2.30 pagi hari jumat akhirnya dalam kondisi gelap gulita saya pergi ke bidan yang kebetulan dekat dikomplek saya. Sungguh rasa kantuk yang saya tahan terus menerus saya berusaha agar terus terjaga karena hanya saya yang saat itu menjaga istri. Dan pada hari jumat pukul 12.35 akhirnya istri saya melahirkan dengan selamat dengan dikarunia bayi yang cantik.

Dari sini saya merasa, kok bisa analisa dua dokter bisa berbeda yang satu nyaranin untuk cesar dengan alasan tinggi badan dan yang satu bilang normal dan terbukti, padahal dua-duanya bertitel sama yaitu S.POG…..Disini juga saya melihat  bahwa dalam menenangkan kondisi  psikis seorang pasien biasanya jiwa seorang perempuan akan lebih peka dibanding laki-laki tapi ini kebalikannya….dan jujur hingga dengan kondisi kehamilan istri saya untuk anak kedua saya lebih memilih dokter laki-laki dengan inisial S ini karena lebih nenangin dan beliau sendiri selalu memberikan semangat serta tips agar selalu sehat selama hamil. Entahlah apa motif untuk selalu melakukan cesar ada unsur bisnis didalamnya saya tidak tahu, saya hanya berharap agar temen-temen ketika istri kita akan segera melahirkan (biasanya untuk anak pertama) agar tidak tergantung pada satu dokter usahakan 2 atau lebih setidaknya dokter tersebut kita percaya  akan kredibilitasnya.

Pengalaman ini dimaksudkan agar kita tidak tergesa-gesa untuk mengambil keputusan karena banyak faktor yang kita perhatikan terutama faktor psikis /istri dan biaya. Banyak wanita mengharapkan melahirkan dengan kondisi normal dan cesar adalah pilihan kedua bila memang kondisi janin tidak memungkinkan (kondisi sungsang/melintang) serta melahirkan tidak harus selalu di RS di bidan juga bagus.

About omiyan

Cuman seorang newbie didunia maya, selalu merasa jika berbicara lewat tulisan itu lebih baik daripada kita berbicara tanpa ada jejak dalam sebuah tulisan.

Diskusi

46 thoughts on “2 Analisa Dokter Yang Berbeda

  1. dua dokter bisa analisa beda, meski gelarnya sama, bisa jadi karena beda tempat kuliah lah..😀

    *sok teu banget yak?😛

    Posted by Billy Koesoemadinata | 20 Januari 2009, 01:45
  2. Ah.. husnudzon aja ah.. Lebih menenangkan jiwa.
    Hehehe…

    Posted by yamadisini | 20 Januari 2009, 02:24
  3. Namanya juga diagnosa, tapi bikin deg-degan juga.. Yang penting si ibu dan si bayinya sehat wal alfiat..

    Posted by fadhli | 20 Januari 2009, 02:54
  4. ya betul juga tuh apa yang om billy katakan

    beda diktat juga tuh dokter waktu kuliahnya, wkakakak

    juga, yang satu duduk didepan, yang satu duduk dibelakang …. wkakakakakakak

    Posted by WinMit | 20 Januari 2009, 03:07
  5. yah… selamat deh, sudah dikaruniai hampir 2 orang anak… saya kapan ya?…..
    ah… huznudzon sama Allah SWT aja lah…

    Posted by mayssari | 20 Januari 2009, 03:14
  6. tp memang bener ko kak, kadang beda dokter beda analisa..kayak sodara saya, dokter yang pertama bilang dia kena TBc, dokter kedua bilang ndak ada masalah apa2 dgn paru2nya, tapi dokter ke tiga lebih serem, katanya kena kanker paru2.
    jadi, next time, kudu lebih ati2 dan pikir panjang, ga nelen mentah2 itu vonis dokternya🙂

    Posted by INDAHREPHI | 20 Januari 2009, 03:24
  7. kalau ke dokter memang harus ada second opinion nya.. tapi mungkin dokter yang menganjurkan cesar tidak berani mengambil resiko.. dan mencari jalan yang paling aman (dan yang paling untung.. loh..) hehhe..

    Posted by Indra Hadi | 20 Januari 2009, 03:34
  8. iya,…yah. kok bisa gitu yah…. manusia tidak luput dari khilaf kali yah, om….

    Posted by kenuzi50 | 20 Januari 2009, 03:39
  9. Yup di Bidan jg OK

    Adeku bidan masalahnya

    Semangat sobat🙂

    Posted by achoey | 20 Januari 2009, 04:01
  10. hmm,, yg pasti selamat atas kelahiran putrinya,,,

    Posted by pradzt | 20 Januari 2009, 04:48
  11. Dunia medis sekarang sudah cenderung menjadi industri yang sangat komersial. Pertimbangan dokter dalam melakukan diagnosa sangat dipengaruhi karena pertimbangan komerial.

    Apalagi dalam memberikan obat2an. Pilihan obat2an yang diberikan kepada pasien lebih karena pertimbangan komisi mana yang lebih banyak diberikan oleh perusahaan farmasi.

    Memang, kita harus berani minta second opinion bahkan third opinion sebelum mengambil keputusan medis apa yang harus diambil. Karena pada akhirnya kita yang harus menerima resiko atas keputusan yang diambil tentu dengan sejumlah uang yang sudah kita keluarkan.

    Sedang dokter dengan senang hati menikmati uangnya…

    Omiyan jawab: Betul banget mas, say sendiri sebagai pelayan masyarakat dalam konteks yang beda bisa merasakan mana yang bisa nenangin dalam artian jiwa oranglain tidak dalam tekanan….saya sendiri kagetnya seharusnya dokter wanita itu lebih perasa dalam memahami kondisi pasien tapi ini aneh….saya juga curiga ke hal situ

    dan yang saya takutin kalo hal ini menimpa saudara kita dengan kondisi keuangan pas2an terus menuruti kemauan dokter untuk operasi cesar padahal masih bisa normal kasihan banget setelah melahirkan harus banting tulang buat bayar hutang belum mikirin susu buat anak….

    Posted by Mahendra | 20 Januari 2009, 05:04
  12. yah namanya juga dokter kan ada istilah dokter juga manusia….
    tapi mreka juga mesti hati2 karna mereka juga ingin hidup bukan untuk percobaan…

    salam kenal yah

    Posted by B.T | 20 Januari 2009, 05:21
  13. kayaknya lebih murah yang di dekat pintu tol timur deh.. hehehe…

    Posted by yamadisini | 20 Januari 2009, 06:02
  14. untuk urusan dengan dokter kandungan, memang biasanya kita tidak bisa langsung cocok dng 1 dokter… istri saya aja sdh 4x ganti dr

    Posted by sof | 20 Januari 2009, 06:23
  15. waduh..bahaya tuh bro kalo dokter2 jadi begitu..jangan cuman sakit batuk biasa aja udah divonis TBC tingkat parah? Wew!

    Posted by Andre | 20 Januari 2009, 07:04
  16. salam kenal..
    terima kasih kunjungannya ke blog

    urusan dokter kandungan…
    emang susah.. cocok cocok an.. saya aja dulu sampai di rewangi pulang balik jakarta semarang gara gara.. cocoknya cuma dokter yang di semarang…
    ..
    hehehe
    sampai anak ke dua.. masih dokter yang sama
    ..eh mauanak ketiga… juga seharusnya dokter yang sama di semarang…
    tp ternyata….
    si jabang bayi maunya lahir di jakarta…
    jadilah…. punya dokter spog baru…
    …..
    memang begitu kok… cocok cocok an..

    Posted by cenil | 20 Januari 2009, 08:18
  17. hmmm
    kalo di jepang nih.
    mending operasi caesar karena murah. Karena dicover asuransi sedangkan melahirkan normal tidak dicover (karena bukan penyakit katanya hehehe)

    Saya sendiri sudah “biasa” dioperasi jadi apa juga boleh hehehe. Anak pertama kelahiran normal epidural sedangkan yang ke dua caesar karena usia 7 bulan dan lemah.

    but, memang kalau di Indonesia lebih baik minta second opinion. Apalagi kalau diagnosanya JELEK heheheh.

    EM

    Posted by Ikkyu_san | 20 Januari 2009, 09:05
  18. saya sendiri juga lihat-lihat cara ngomongnya, pernah anak saya sampe dites di lab juga, anlisanya kena typhus, we lha… kok bisa jelas nggak mungkin kata saya…
    terus saya baya ke dokter lain dia bilang bagus-bagus aja, kalo trombosit katanya malah cuman banyakin minum air putih saja, kemudian baru bisa pulang dengan lega dan sembuh juga langsung anak saya.

    Sepertinya memang harus gerilya juga masalah kesehatan ini, ketika masih hamil dulu juga sampe mendatangi beberapa dokter dan pilih yang sreg dan cocok, dan tidak lupa untuk saling berkomunikasi dengan teman-teman yang sudah pengalaman, kadang banyak saran yang pas dan tentunya bisa menekan biaya pengeluaran.

    Posted by suryaden | 20 Januari 2009, 09:12
  19. jadi siapa yang benar?

    Posted by thegands | 20 Januari 2009, 09:52
  20. wah omiyan kt punya masalah yang sama (mirip sih sebenarnya) mungkin omiyan bisa liat di posting “Itu Salah” di blog saya.

    Jujur saya merasa mungkin sampe saat ini memang mereka masih memonopoli dunia kesehatan masyarakat, namun saat masyarakat mulai mengerti dan mulai meninggalkan mereka barulah mereka akan mulai menghargai pasien sebagai manusia bukannya sebagai barang investasi.

    Proses itu telah berjalan

    Posted by yande | 20 Januari 2009, 09:55
  21. hmmm, syukurlah, om. untung waktu itu gak langsung mengiyakan.
    2nd opinion sometimes is needed.
    *celingukan* bahasa inggris gw bener ga ya?
    heuheu😛

    Posted by duniafannie | 20 Januari 2009, 10:45
  22. kan smwa manusia pasti prnah salah,,

    Posted by kahfinyster | 20 Januari 2009, 11:22
  23. dokter kan juga manusia hehehe

    tp kalo berhubungan ma keselamatan nyawa juga berabe ya…🙂

    Posted by inge | 20 Januari 2009, 11:52
  24. Siapa yang benar dan siapa yang salah..?

    hmmm binun…

    Posted by aCist | 20 Januari 2009, 11:53
  25. wahhh… gitu yagh..???

    Posted by liecha | 20 Januari 2009, 12:14
  26. Bearti saya juga harus lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan seperti itu🙂

    Posted by maskoko | 20 Januari 2009, 12:34
  27. Hem…jadi ngeri juga nih. Dulu saya juga pernah nginap satu bulan di rumah sakit tapi dokternya gak tau saya sakit apa. Untung waktu itu belum santer tentang Flu Burung. Coba udah rame soal flu burung pasti dah saya dikarantina. Pulang paksa dan minum pocari sweat eh malah sembuh. Cepek deh…

    Posted by tegtitan | 20 Januari 2009, 12:42
  28. analisanya : dokter yang cewek lebih berhati2 dalam mengambil tindakan n nyari jalan yang lebih safe. n dokter yang cowok mungkin lebih berpengalaman dalam kasus2 spt itu..
    OK.. so be positive thnkn… OK…

    Posted by becks | 20 Januari 2009, 13:19
  29. Apa tinggi badan itu bisa mempengaruhi dalam proses kelahiran? Kayaknya koq nggak ada hubungannya ya, ada yg bisa jelaskan?

    Posted by radesya | 20 Januari 2009, 13:23
  30. dokter jugaa manusia …

    bagus banget nih postingan, bisa buat pelajaran buat yang lain, termasuk saya, makasih ya🙂

    Posted by JelajahiDuniaEly | 20 Januari 2009, 13:46
  31. Lam knal om..
    Kl saya punya 2 versi untuk hal ini 1. Dr perempuan td berorientasi bisnis
    2. Dr perempuan tadi, salah mengukur tinggi dan lingkar panggul istri om shg tjd slh diagnosa yah dokter jg manusia om.
    Karena secara teori yg saya pelajari (kbetulan gue org kesehatan jg), terdapat hub antara tb, lingkar panggul dan kondisi fisik scr kseluruhan.. Jadi kepanjangan.. Sekian dulu ah

    Posted by Kemix | 20 Januari 2009, 14:09
  32. Mungkin si dedex tau kalo bunda’na pengen nglahirin normal, maka’na dys puter posisi,,:mrgreen: emg calon anak iiang baik..

    Posted by fandi88 | 20 Januari 2009, 15:23
  33. emm…itu mungkin dokter yang 1 kuliahnya reguler dan yang 1nya ekstention, hehe…

    Posted by ayik | 20 Januari 2009, 15:49
  34. selalu cari second opinion kalau saya …

    Posted by Rindu | 20 Januari 2009, 16:40
  35. Apa bisa itu dinamakan MALPRAKTEK ???😦

    Posted by nelson | 20 Januari 2009, 19:39
  36. iya tuh pasti dokternya beda sekolah hehehe..masih mending tuh, aku dulu didiagnosa usus buntu, dokter satunya lg diagnosa kista indung telur.

    Posted by mercuryfalling | 20 Januari 2009, 19:47
  37. Kayaknya saya masih lama untuk punya istri dan anak..hehe

    Posted by Just Bryan | 20 Januari 2009, 21:34
  38. dokter menganalisa kan berdasarkan pengalaman, jadi mungkin dia melihat gejala itu berdasarkan pengalamannya dia … gak ada yang perlu disalahkan …

    Posted by adinata | 21 Januari 2009, 00:26
  39. wah… anak saya juga pernah salah deteksi😦 ini ceritanya

    http://hmcahyo.wordpress.com/2008/08/23/anak-yang-mndebarkan-itu-sekarang-4-taon/

    Posted by heri | 21 Januari 2009, 02:26
  40. maklumlah mas dokter juga manusia! sama sama cari makan! udah lupain aja! thank’s for info!

    Posted by bonk 181 | 21 Januari 2009, 02:56
  41. Memang sebaiknya sejak awal kehamilan tak ganti-ganti dokter, bahkan saya dulu buku berobat dibawa kemana-mana jika ada keadaan darurat, agar dokter siapapun bisa membaca riwayat kehamilan dengan benar. Dalam buku tsb dokter menuliskan secara detail hasil pemeriksaan sejak awal kehamilan.

    Dan pilih dokter yang bisa diajak diskusi, dulu dokter saya malah bisa sampai setengah jam, menjelaskan dengan gambar-gambar, dan apa kemungkinan yang akan terjadi saat kelahiran (kebetulan anak pertama ari2 di bawah). Dengan demikian pasien paham benar apa masalahnya.

    Dan kemudian, kita punya hak melakukan second opinion, karena dokter membuat diagnosa berdasar hasil pemeriksaan lab, USG dsb nya. Sehingga kalaupun mesti operasi, dia harus menjelaskan alasannya, bukan kok hanya karena tinggi badan atau pinggul sempit, tapi juga analisannya, dengan demikian pasien memahami betul.

    Posted by edratna | 21 Januari 2009, 03:01
  42. Dokter kan manusia.
    Dokter juga profesi.
    Profesi adalah kata dasar profesional.
    Profesional sekarang sudah dikonotasikan dengan duit.
    Jadi dokternya cari duit tuh, om.
    Ditimbang-timbang mana yang untungnya lebih besar, apakah normal atau cesar.
    Sangat profesional…

    Posted by ~noe~ | 21 Januari 2009, 03:47
  43. kok bisa dua analisa yang berbeda atau gini memang sih isi otak manusia juga kan kagak sama lagian dokter jugakan manusia

    Posted by iwan | 21 Januari 2009, 08:26
  44. Yg satu komersil (lagi ngejar setoran) kali, yg satunya idealis.😀

    Posted by rudy | 24 Januari 2009, 13:14
  45. pak, sebelum memutuskan, kita memang harus mencari second opinion..

    semoga hal tersebut tidak terjadi pada yang lainnya..

    selalu ada yang baik dan yang kurang baik…😀

    Posted by Regina | 26 Januari 2009, 07:43
  46. mgkn peristiwa di atas disebabkan karena perbedaan kualitas antara kedua dokter tsbt, yg satu lebih tepat dlm mediagnosa dan yg satunya..tahu sendiri deh..

    Posted by azhar bakri | 26 Februari 2011, 02:41

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

twitter

  • 2,465,694 Sejak 17 Nov 2008

Kategori

Yang Lagi OL

Langganan via Email

Bergabunglah dengan 930 pengikut lainnya

smadav antivirus indonesia

%d blogger menyukai ini: