Sekedar Celoteh

Validitas Data : RT Vs Desa


Ribut-ribut hasil Pilkada yang tak pernah usai dengan alasan adanya penggandaan data pemilih ternyata adalah penyebab utama dari segala keributan, padahal sebetulnya permasalahn yang kecil itu bisa menjadi rumit tatkala data tersebut dikelola tidak secara profesional.

Mungkin buat sebagian orang mengenai data-data yang ada di RT sangat disepelekan, padahal saya sendiri sudah mengungkapkan ide agar data-data terutama mengenai data kependudukan sebaiknya menggunakan Komputerisasi walaupun itu tingkat RT, walau saya tahu permasalahan Sumber Daya Manusia untuk menggunakan teknologi yang bernaka komputer masih sangat kurang apalagi untuk yang tinggal dikampung-kampung rasanya mustahil untuk diterapkan.

Saya sendiri telah membuat Base Data dengan menggunakan MS Acces 2007   selama ini penggunaan base data tersebut sudah saya terapkan diinstansi tempat saya bekerja. Tujuan saya adalah meminimalisir penyimpanan data dalam bentuk tulisan disebuah buku karena akan memakan waktu yang banyak dan dirasa untuk saat ini tidak efektif.

Saya melihat bahwa validitas data kependudukan yang sebenarnya sesuai kondisi dilapangan bisa saya katakan hanya ada ditingkat RT, tapi sayangnya dari tingkat kelurahan sendiri tidak ada inovasi untuk melakukan perbaikan data kependudukan yang “mungkin” bisa dilaksanakan setiap 6 bulan sekali, karena data kependudukan akan terus berubah setiap bulannya. Sekarang coba kita perhatikan biasanya pihak akan melakukan permintaan data setelah akan diadakannya sebuah kegiatan semacam pembagian BLT atau Pemilu dan ketika pembagian BLT kemaren saya melihat banyak yang masih menggunakan data yang sudah berumur setahun padahal dalam jangka waktu setahun tersebut perubahan data sudah pasti terjadi.

Jika RT bisa diperhatikan dalam kinerjanya artinya tidak dipandang sebelah mata maka saya yakin akan mempermudah data kependudukan ditingkat desa dan selanjutnya, tapi rasanya mustahil aparat RT mendapat perhatian kearah sana. Sekarang aja kita tahu bahwa yang menjadi aparat RT adalah antara kemauan dan ditunjuk oleh warga tapi ketika kita meyakini bahwa aparat RT adalah bagian dari suatu pemerintahan seyogyanya kelengkapan administrasi sangat diperlukan serta membiasakan agar tidak melek terhadap teknologi yang ada..(rasanya mustahil).

Dan ini adalah tulisan sekaligus harapan saya karena saya melihat bila ini bisa dilaksanakan khususnya dalam menangani data kependudukan, maka kita akan tahu data sebenarnya Penduduk Indonesia kemudian taraf ekonomi dan kesejahteraan karena selama ini yang ada akurasinya baynka yang bodong dengan melihat kasus Pilkada jatim, semoga darisana bisa menjadi pembelajaran bahwa berubah untuk memperbaiki keadaan itu adalah baik.

MEMBIASAKAN YANG BENAR BUKAN MEMBENARKAN YANG BIASA


Download Data Base Warga Klik Disini

About omiyan

Cuman seorang newbie didunia maya, selalu merasa jika berbicara lewat tulisan itu lebih baik daripada kita berbicara tanpa ada jejak dalam sebuah tulisan.

Diskusi

33 thoughts on “Validitas Data : RT Vs Desa

  1. mungkin bisa di mulai dari lingkungan terdekat biar ga cuma berakhir di tulisan ini?

    Posted by Chic | 20 Maret 2009, 04:48
  2. kuncinya sebenarnya pada pendataan KTP kartu tanda penduduk yang profesional sehingga pak RT yang notabene adalah relawan itu tidak harus kebakaran jenggot dan bertambah kewajibannya, meskipun KTP tapi itu adalah hak politik rakyat yang sangat penting sekali…

    Posted by suryaden | 20 Maret 2009, 05:28
  3. dari RT nya udah benerr kalo di DESA nya “ga bener” ya sama aja boong om.
    karena orang dimana2 bisa bikin yg “ga bener”..
    iya kan?

    Posted by MEL | 20 Maret 2009, 06:35
  4. gimana mau dapat data yang bener mbak !!
    wong ngurus KTP aja di persulit,
    jadi sebenarnya kekisruhan soal Manipulasi DPT pilkada jatim itu tidak terlepas dari kesalahan aparatur negara, mulai dari kepling, RT/RW, kades ampe lurah dan terus keatas,…

    di tempat aku aja mbak !!
    ngurus KTP kudu 50 rebo, iya yang kaya bisa lah ngurus, nah yang miskin? boro2 KTP, BLT aja di potong,…

    seharunya aparatur itu harus dibersihkan otaknya mbak !! dan buat KPU jangan cuma bisa memutakhirkan data aja, kalo bisa, 5 bulan sebelum pemilu udah di sensus penduduknya rumah per rumah oleh lembaga independent, jangan oleh RT/RW lurah atau camat yang Lapar,..

    gmana mbak? cocok gak??

    uhhh,.. maap mbak, rada kesel soalnya
    ekekekekek

    salam kenal
    dari

    Omiyan jawab: hehehehehe tenang mas jangan isome eh emosi, ditempat saya pembuatan KTP itu gratis karena saya sendiri mempunyai asumsi bahwa YANG DIHARUSKAN/DIWAJIBKAN semacam pembuatan KTP, KK, AKTA dan lainnya adalah kewajiban setiap warga dan dipastikan adalah GRATIS kalau emang ada yang seperti itu laporin aja mas kalau ga muat dikoran dan saya sendiri adalah bendahara RT…

    Dan saya sendiri memang kembali ke masalah mental, kalau penyakit itu sudah menjadi kebiasaan maka akan sulit diberantas kecuali dipangkas satu atau dua angkatan jadul biar korupsi ga menjadi kebiasaan…

    eh mas saya ini bukan mba tapi omiyan hihihihih

    -si gonda-

    Posted by sigonda | 20 Maret 2009, 08:27
  5. Atau begini om. bgm klw database RT pake program SAP yang dikoneksikan dgn Server Nasional. Seperti SIPMOD, kan mantap. Hahahaha….

    Omiyan Jawab: ide yang bagus tapi bener juga kata ari terlalu banyak biaya nantinya….ah biarin aja ini hanya sebatas wacana karena terlalu banyak biaya nantinya buat negara kasihan negara ini duti buat rakyat malah nanti buat beli kompo yang harga 2 kali lipat tidaaaakkkk…ahs aya jadi malu punya ide gila ini wakakak

    Posted by tengkuputeh | 20 Maret 2009, 09:09
  6. Ide yang menarik juga yach ….

    Tapi pasti ada kesulitan kalau di tingkat RT disediakan computer🙂

    Dananya pasti sangat menguras uang rakyat, Itu belum kalau di KORUPSI😀

    Mungkin dengan sistem yang ada kita perbaikin terlebih dahulu SDM dari orang2 yg ngurusin hal ini di lapangan …

    Salam🙂

    Posted by aribicara | 20 Maret 2009, 09:19
  7. mmmm, jadi malu mas kalau koment di postingan yang keren seperti ini hehe, jadi maaf2 dulu kalau komentnya membahayakan kesehatan.

    Kayaknya kalau setiap RT ada kompi untuk membuat database kependudukan, terus ditunjang dengan sistem jaringan yang oke, dan tenaga yang ahli, pasti masalah kependudukan bisa teratasi dengan okey …

    tapi memang teori tidak semudah membalikan telapak tangan, ada proses yang suangatt susah sekali untuk mewujudkan semua itu, wong RT nya juga kebanyakan kerja sukarela …🙂 ,,, ada yang lebih simple selain setiap RT harus punya 1 buah kompi ?

    Posted by JONK | 20 Maret 2009, 10:32
  8. MEMBIASAKAN YANG BENAR BUKAN MEMBENARKAN YANG BIASA

    Quotenya bagus euy Om

    Posted by Ade | 20 Maret 2009, 13:22
  9. ekekekeke,… !!!
    makasih udah berkunjung Omiyan !!!
    (kali ini gak bakal panggil mbak deh !! manggil oM aja ):D

    Posted by sigonda | 20 Maret 2009, 14:44
  10. bener juga ya.. data sekecil apa pun itu pasti bakal berharga.. RT kayaknya ngga masuk ke bagian pemerintahan.. tapi mungkin RT bisa inisiatif untuk membeli fasilitas dan bisa di percaya untuk mengelolanya..

    biasanya malah di ambil..😀

    Posted by Andri | 20 Maret 2009, 16:13
  11. Membiasakan yang benar susah om, soalnya orang indonesia masih seneng yg satunya lagi…
    bisa karena biasa…contohnya milih partai…biasa milih P** ya milih aja itu terus😀 padahal ya …. *diisi sendiri aja titik2nya ya😛 *

    Posted by Ria | 20 Maret 2009, 17:17
  12. Semestinya biaya KTP itu sdh gratis, namun sering jg ada org yg mmbri, katanya ongkos keringat…

    Posted by omeng | 20 Maret 2009, 17:19
  13. klo dirumah M , satu RTnya cuman ‘sak uprit’ dikit banget. jd kek gitu bakal susah.. masih ‘nrimo’ dengan sistem manual😀

    Posted by eMo | 20 Maret 2009, 18:01
  14. Sekarang ini jikalau ada 10 orang, dan 9 orang diantaranya berjalan dengan tangan sementara yang 1 orang berjalan dengan kaki, maka yang 1 orang berjalan kaki pasti dianggap gila…🙂

    Tabik…

    Posted by Mahendra | 20 Maret 2009, 18:16
  15. Wah kalau setiap RT punya data warga dari yang tetap dan pendatang yang di komputerisasikan (walau cuma beberapa menit datang) saya kira akan lebih bagus dan akan lebih membuat aman setiap warga/RT. Apa alasan? Karena walau ada maling yang masuk ke rumah warga sudah ada datanya di situ :mrgreen:
    **becanda

    Posted by bujaNG | 21 Maret 2009, 00:06
  16. sistem ape ntu mah

    Posted by Fuad | 21 Maret 2009, 00:49
  17. setuju sama chic om, mungkin bisa dimulai di lingkungan terdekat…

    Posted by sucikeren | 21 Maret 2009, 01:14
  18. om mampir aja ya
    blom komen dulu

    salam😀

    Posted by yangputri | 21 Maret 2009, 02:20
  19. Mulai dari tingkat RT
    Keakuratan itu mutlak
    Jadikan yang baik menjadi kebiasaan

    Posted by achoey | 21 Maret 2009, 04:08
  20. kalo serasa mampu desa is ok laaaah

    Posted by hanstoe | 21 Maret 2009, 05:18
  21. hidup desa hiduuuuuup

    Posted by and1k | 21 Maret 2009, 10:24
  22. baca dulu om

    Posted by annosmile | 21 Maret 2009, 12:30
  23. seringkali rt dan rw di bypass dalam berbagai urusan admin, dan ini juga berakibat kurang validnya data yang ada

    Posted by mesin kasir | 21 Maret 2009, 12:46
  24. Memang di negara ini, sistem pengarsipan dan pendataan secara komputerisasi belum “dibiasakan”. Jangankan standalone, apalagi mau terhubung secara nasional. Masalahnya ya masih banyak yang belum melek teknologi, atau kalaupun sudah mengerti tapi penempatan dan penggunaanya tidak tepat. Contoh, taunya komputer cuman buat nge-game sama dengerin lagu doang.
    Oleh karena itu, mari kita kenalkan dan biasakan penggunaan teknologi secara tepat di lingkungan masing-masing! Semoga 50 tahun lagi bisa nyusul Jepang dan Amrika!🙂🙂

    Posted by Must_GoGo! | 21 Maret 2009, 16:17
  25. aku juga dr desa hidup desa hiduuuuuup

    Posted by mrpall | 21 Maret 2009, 18:27
  26. hmm.. klo ngomongin masalah Pemilu.. So, ga’ jauh dari keributan.. tak ayal memang klo saja di negeri ini hanya ada dua atau tiga saja parpol.. pasti jatuhnya ga’ bakalan kya sekarang..🙂

    Salam Weekend..🙂

    Posted by angga erlangga | 22 Maret 2009, 00:17
  27. Ada kasus juga lho, Ada anak umur 3 tahun masuk dalam nama pemilih untuk pemilihan umum… aneh ya..??

    Posted by Daiichi | 22 Maret 2009, 01:39
  28. Masalah seperti ini mmg menjadi sebuah dilema…😆

    Posted by Didien® | 22 Maret 2009, 06:06
  29. walah aku wong ndeso iki….walah2 merdeka

    Posted by anto84 | 22 Maret 2009, 19:24
  30. setuju sm mas didien😆

    Posted by sapi | 24 Maret 2009, 08:41
  31. Bagusnya para PNS yang sering ngak punya kerjaaan di kantor, setiap bulan keliling tiap RT untuk mensurvei data, lalu memasukan data tersebut ke data center di tiap kecamatan. Lalu data tersebut dikomputerisasi. Setelah berhasil, baru masuk ke desa.

    Posted by nusantaraku | 24 Maret 2009, 14:30
  32. Om saya minta dibikinin database penduduk per keluarga, cuman saya bisa mbalas TERIMA KASIH saja bila mau.

    Omiyan : Bisa mas tapi kebutuhannya seperti apa selain nama, tempat dan tanggal lahir apalagi

    Posted by PUTHUT KURNI | 6 November 2010, 03:45
  33. Bs ga kirim aplikasinya,,bwt database penduduk

    Posted by Maria | 21 Agustus 2015, 19:18

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

twitter

  • 2,461,813 Sejak 17 Nov 2008

Kategori

Yang Lagi OL

Langganan via Email

Bergabunglah dengan 929 pengikut lainnya

smadav antivirus indonesia

%d blogger menyukai ini: