Sekedar Celoteh

Sisi Lain Dari Kehidupan Orang Pajak (1)


Sebuah email masuk dan ketika saya baca isinya :

” Halo om boleh saya minta tolong, saya mau minta tolong sama omiyan supaya bisa menerbitkan beberapa tulisan dan sudah saya attach di email ini tujuannya agar semua orang tahu sisi lain dari kehidupan orang pajak itu sendiri jangan sampai yang diangkat ke permukaan adalah hal-hal yang negatif tapi seharusnya mereka juga tahu bahwa tidak semua orang pajak seperti itu.

Hati saya pilu rasanya menyimak berita yang muncul kenapa opini-opini yang ada malah menggiring bahwa orang pajak adalah bangsat semua memakan uang haram semua apa yang ngomong berlagak seperti orang pintar itu menjamin mereka bersih justru saya sangksi sendiri atau jangan-jangan mereka sendiri ga pernah bayar pajak dengan kondisi sekarang mereka ingin memanfaatkan supaya makin bebas dari pajak yang ada.

Om saya ingin agar di blognya Omiyan dimunculkan beberapa kisah para sahabat kami agar semua orang lebih membuka mata tentang sisi lain kehidupan para pegawai pajak..tolong om karena saya melihat blog ini postingannya selalu bisa diterima oleh para pembaca lainnya ….

Makasih banyak …

XXXXXXXX

Dan akhirnya saya sebagai pemilik Blog memutuskan untuk menceritakan beberapa kisah yang diambil dari Buku yang Berjudul Berbagi Kisah Dan Harapan Perjalanan Modernisasi Direktorat Jenderal Pajak dan judul yang saya ambil sekarang adalah kisah tentang seorang Pegawai Pajak Yang Harus Terpisah Jarak Dengan Anak dan Istrinya yang berjudul SERAMBI MADINAH.

Dan inilah kisahnya :

Di tengah malam yang larut nan sepi, langit-langit kamar kost yang kusam seakan menghadirkan gambar-gambar dari  in focus hati dan pikiranku. Saat aku memandanginya dengan tatapan kosong, untuk dapat menghadirkan wajah belahan jiwa: istriku yang tercinta dan dua buah hatiku, anak-anakku yang sangat kukasihi. Apalagi tadi siang saat menelepon istriku dari kejauhan terdengar sayup suara anak perempuanku,  “mau-ayah, mau-ayah…!”, tanda si sulung sangat rindu pada ayahnya.  Suara itu mengoyak rindu tanpa aku bisa memeluk atau menyentuhnya.

Sebelum di tempat tugas yang baru, aku bertugas di salah satu KPP Pratama di Jakarta Pusat, yang merupakan pilot project untuk KPP dengan sistem administrasi modern di Indonesia. Untuk dapat diterima di KPP tersebut aku harus melalui seleksi penerimaan. Alhamdulillah aku diterima. Ketika bertugas di Jakarta aku juga kost sendirian,  sedangkan istri dan anak-anakku tetap tinggal di Bandung. Ini semua kami lakukan dengan penuh kesadaran demi kesinambungan terapi dan pendidikan anak sulungku yang berkebutuhan khusus. Lagi pula jarak Jakarta-Bandung relatif dekat jadi setiap minggu masih bisa mudik ke Bandung naik travel dengan harga yang terjangkau.

Si sulung merupakan inspirasiku, penyemangat untuk ikut seleksi di KPP Modern, sebagai langkah awal hijrah ke kehidupan yang lebih baik. Teringat saat-saat ikut ujian seleksi kantor modern di Jakarta,  aku dan teman-temanku berangkat dari Bandung pukul 04.00 dini hari. Ada kejadian yang tak terlupa, saat makan siang bersama-sama teman dari Bandung. Setelah selesai makan siang dan saatnya membayar, ada seorang teman yang menyeletuk, “sebagai latihan modern bolehlah makan bersama tapi bayarnya sendiri-sendiri!” Tidak ada yang menolak, semua setuju. Meskipun sederhana peristiwanya, tapi terlihat jelas semangat yang mendalam untuk beranjak ke kehidupan yang lebih baik bagi kami semua.

Sampailah giliran saya mutasi ke kota Serambi Madinah. Kabar ini membuat aku lemas  seolah tak berdaya untuk menapak tegak di atas bumi ini, segera berita ini kusampaikan ke istriku bahwa aku mutasi jauh dari Pulau Jawa. “Sabar sayang, di mana saja tugasnya asal keluarga bisa kumpul tidak jadi masalah, kita bersama-sama menghadapi pasti akan terasa ringan,” kata istri coba menenangkanku.

Hikmah lain berkarya di kantor pajak modern saat itu adalah istriku memutuskan berjualan baju muslimah.

“Ayah, saya sudah beli tiket buat nanti ayah berangkat, karena kemarin ada seorang ibu yang memborong dagangan yang nilainya bisa untuk beli tiket pesawat,” kata istriku saat aku akan berangkat ke Gorontalo. Kupeluk dan kuciumi seluruh wajah istriku. “Terima kasih cinta, Bunda baik sekali sama ayah, Bunda sudah bersusah payah mendidik anak-anak, sekarang bersusah payah membelikan tiket dengan uang keringat Bunda sendiri, tidak ada kewajiban membantu cari nafkah buat suami!”

Aku terpaksa sendiri tanpa didampingi istri dan anak-anak, karena di tempat tugas yang baru tidak ada sekolah dan tempat terapi untuk anak sulungku yang berkebutuhan khusus. Karena itulah untuk sementara kami berpisah, dan hanya sebulan sekali kami bisa berkumpul. Sungguh berat keputusan ini kami ambil, tapi semua ini semata-mata demi pengobatan dan kebaikan si sulung. Sebuah keluarga sebaiknya memang harus berkumpul bersama untuk saling asih, asah dan asuh agar anak-anak bisa mempunyai figure seorang bapak dan seorang ibu, tapi kadang kondisi keadaan yang memaksa untuk tidak selalu demikian.

Hari itu, setelah berangkat dari Cengkareng pukul 06.00 WIB , pesawat mendarat di Bandara Djalaluddin sekitar pukul 10.30 WIT. Perjalanan melintasi sungai, gunung, laut, pulau bahkan melintasi waktu. Dari Bandara Djalaluddin ke tempat tinggalku di rantau yang berupa sebuah kamar kost sederhana, aku naik taxi bandara yang  berupa mobil Avanza berplat nomor warna hitam.

Kembali kumenatap langit-langit yang penuh gambar perjalanan hidup diriku, kini terasa semakin tampak jelas wajah istriku dan wajah anak-anakku. Malam ini malam Minggu, malam yang biasanya merupakan saat yang membahagiakan bagi kami untuk bercengkrama dan berbagi kasih, tapi kali ini aku hanya tersendiri dalam sepi di kamar kost. Kuambil telepon genggam untuk menelpon istriku tapi rasa ragu timbul karena sekarang sudah pukul 02.00 WITA yang berarti pukul 01.00 WIB. Aku takut mengganggu tidur istriku. Rasa rindu mendalam mendorongku untuk tetap menelpon istriku.

”Maaf cinta, aku menelepon di malam selarut ini, aku tidak bisa tidur karena kangeeen sekali.”

“Tidak apa-apa sayang, aku dan anak-anak juga kangen”, sahut istriku.

“Rasanya aku tidak kuat lagi di sini. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku perlu cari kerja lain agar kita bisa kumpul?”

“Ayah sayang, yang sabar dan tawakal yach?! Kerja di Kantor Pajak dengan penghasilan yang cukup tinggi adalah anugerah, banyak orang antri ingin kerja di Pajak, malah ayah pengin keluar, tidak perlu sebegitunya, Yang! Ayah di sana sendiri karena pekerjaan, laksanakan dengan ikhlas, niatkan untuk beribadah kepada Allah untuk melaksanakan kewajiban menafkahi keluarga. Meskipun sendiri tanpa keluarga di sana tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan, tetap menjaga keharmonisan keluarga. Bunda di sini bisa sendiri mengurus anak-anak, menjaga kehormatan seorang istri. Jadikanlah semua ini sebagai ladang ibadah kita untuk bekal kelak di akhirat!”  istriku mencoba menenangkanku.

“Kasihan Bunda, sudah berat mengurus anak-anak terutama si sulung yang berkebutuhan khusus, malah sekarang tambah sibuk berdagang busana untuk membantu ekonomi keluarga!” tuturku.

“Saya ikhlas melakukan ini, kita dititipi anak yang istimewa karena di pandangan Allah kita mampu. Yakinlah akan anak kita yang istimewa. Ayah sendirian di sana, dan bunda mengurus anak-anak sambil berdagang di sini, adalah ladang ibadah yang perlu kita tanami dengan kebaikan dan keikhlasan”.

Kata-kata istriku yang sejuk seolah memberi kedamaian dalam hati dan jiwaku, memompa semangatku untuk tetap bertahan dalam pengabdian dan berkarya di DJP. Terima kasih Ya Allah, telah Kau anugerahkan kepadaku kekayaan terindah dan tak ternilai…. istri yang sholihah.

About omiyan

Cuman seorang newbie didunia maya, selalu merasa jika berbicara lewat tulisan itu lebih baik daripada kita berbicara tanpa ada jejak dalam sebuah tulisan.

Diskusi

16 thoughts on “Sisi Lain Dari Kehidupan Orang Pajak (1)

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Ternyata Bang Omiyan pegawai Pajak. Santai, Bang. Saya masih setia bayar pajak dan rela ngantri hingga 2-3 jam untuk melunasi pajak meskipun hati ini rada keiris pedih gara-gara si Gayus..

    Posted by alamendah | 30 Maret 2010, 10:43
  2. Pajak! Wajib hukumnya!

    Posted by Jidat | 30 Maret 2010, 10:47
  3. gara-gara Nila setitik rusak susu sebelangga, dan mengaburkan opini kita pada mereka yang dengan tulus bekerja di Dirjen Pajak…

    Posted by mawi wijna | 30 Maret 2010, 13:28
  4. yah emang gak semua pegawai pajak itu gak bener lah pastinya. itu hanya oknum2 aja ya…

    Posted by arman | 30 Maret 2010, 17:12
  5. hi…slamat pagi, wah ngomongin Gayus and the gank…salam😀

    Posted by Walasa | 30 Maret 2010, 20:19
  6. nice place to get a new atmosphere here, just wanna say you’ve a good skill seen on your post, really, I like it very much…keep blogging my Brada!!!

    Posted by Lengka | 30 Maret 2010, 20:35
  7. asyik juga OM fasilitasi yang demikian
    sukses OM iyan.
    Buka kedok kemakmuran yang gak jelas asal usulnya, hehehhe

    Posted by yunan shalimow | 31 Maret 2010, 00:29
  8. Barusan juga saja mostingin masalah pegawai pajak, eh disini ketemu sama. Semoga diberikan hidayah agar selalu ada di jalan yang benar

    Posted by mesin kasir | 31 Maret 2010, 05:47
  9. Saya salut om ditengah orang pada benci dengan yang namanya pajak malah om sendiri berusaha memposting tentang sisi mereka yang lain semoga saja kita jadi lebih memahami mereka bahwa tidak semuanya seperti itu

    Posted by kabariberita | 31 Maret 2010, 06:32
  10. tidak hanya di pajak saja, dimana2 pun ada oknum yg tak bertanggung jawab dan merusak nama instansi tempatnya bekerja.
    kebetulan saja sekarang yg sedang diekspose di semua stasiun tv adalah orang dr pajak.
    jadi, kembali pada manusianya, apakah mau bekerja sebagai ibadah atau justru utk memperkaya diri dgn cara2 yg haram
    salam

    Posted by bundadontworry | 31 Maret 2010, 11:43
  11. itu dia oom semua ,… kalo mutasi nya jauh2 gitu bagaimana???????

    coba lihat instansi lain,…???? APA kata Dunia????

    Posted by joko | 31 Maret 2010, 13:06
  12. Tenang Om… banyak temen saya yang pegawai pajak… mereka bersih.. dan lebih memilih hidup bersajaha.. meski di asingkan di kantornya🙂

    salam

    Posted by hmcahyo | 31 Maret 2010, 23:54
  13. Pegawai pajak yang neko-neko, masyarakat bisa tahu. PEGAWAI PAJAK YANG NGGAK NEKO-NEKO, masyarakat juga tahu. Terserah apa kata dunia?

    Posted by Eko Deto | 4 April 2010, 07:57
  14. Om Iyan, mohon izin co-past posting di milis ya?

    Posted by mateelang | 8 April 2010, 08:02
  15. Om, cerita2 yang lain, versi lengkap 1 buku gitu ada gak?. thx

    Posted by mateelang | 8 April 2010, 08:05
  16. Aku suka baca postingan Om Iyan, aku juga salut denganmu teman lamaku.

    Posted by Niqn | 10 April 2010, 18:28

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

twitter

  • 2,464,039 Sejak 17 Nov 2008

Kategori

Yang Lagi OL

Langganan via Email

Bergabunglah dengan 930 pengikut lainnya

smadav antivirus indonesia

%d blogger menyukai ini: