Sekedar Celoteh

Sisi Lain Dari Kehidupan Orang Pajak (2) : Angpaw Lebaran


“Lebaran sebentar lagi…berpuasa sekeluarga…”, suara khas Iin Bimbo mengalun lembut dari speaker aktif milik seorang rekan di Seksi Ekstensifikasi, mengiringi aktivitas hari-hari kerja yang slow motioned di bulan Ramadhan.

Aku tercenung di mejaku yang krodit. Lebaran hampir tiba, tapi tak nampak tanda-tanda turunnya Imbalan Prestasi Kerja (IPK) dari langit. Aku teringat para bapak Satpam yang dengan setia menjagai kendaraan kami, menyapa para tamu dan merangkap sebagai tukang parkir. Teringat aku kepada para bapak petugas cleaning service yang tanpa lelah hilir mudik untuk mengerjakan ini-itu. Dan Pak Mus, yang mendedikasikan hidupnya pada bidang otomotif, sebagai spesialis tukang parkir dan cuci mobil. Seandainya ada IPK, tentulah mereka semua akan “kecipratan” sekian persen dari para pegawai. Atau paling tidak dari sebagian pegawai yang ingin berbagi rezeki.

Lamunan terputus oleh panggilan untukku dari Information Center karena ada Wajib Pajak (WP) ingin bertemu. Ternyata WP yang sedang mengurus proses restitusi. WP ini sudah tiga kali bolak-balik menemuiku. Kunjungan pertama untuk menyampaikan bahwa ia baru saja memasukkan berkas permohonan pengembalian pajak (restitusi). Kunjungan kedua, untuk memasukkan kelengkapan persyaratan yang kuminta di kunjungan sebelumnya. Lalu di kunjungan ketiga, kembali menanyakan kalau-kalau ada persyaratan yang masih kurang.

Ini kunjungannya yang keempat. Ajaibnya, kunjungan pertama hingga keempat ini terjadi dalam jangka waktu satu setengah minggu alias 8 hari kerja. Dalam hati aku membatin, “Walah Pak…Pak…mbok sabar sedikit tho. Kesannya kok saya males banget, padahal tiap dua hari Bapak dateng nyariin saya. Jangan-jangan kangen ya sama saya…(hehehe…ke-GR-an)”. Tapi memang ke-paranoid-an WP tadi bisa dimaklumi, karena nilai restitusinya mencapai beberapa ratus juta.

Begitulah, ternyata kunjungan si Bapak yang keempat ini bermaksud menyampaikan kabar gembira bahwa uang restitusi telah dicairkan dan di-transfer ke rekening perusahaan, dan ia mengucapkan beribu-ribu ~bahkan berjuta-juta~ terima kasih karena telah merasa terbantu dan dipermudah.

Rupanya berjuta ucapan terima kasih itu baginya belumlah memadai, karena kemudian ~dengan gerakan cukup lihai~ ia mengeluarkan amplop coklat tebal yang merupakan jurus pamungkas ucapan terima kasihnya. Aku terpana dalam keadaan shock. Gerakan refleksku adalah menengok ke kiri dan ke kanan dengan cemas, siapa tahu ada yang menyaksikan kejadian ini dan berteriak; “Naaa…kamu ke-gap”. Ternyata tak ada yang memperhatikan. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing.

Si Bapak melemparkan senyuman maklum dengan tatapan arif yang seolah berkata, “gak ada yang liat kok Bu, ambil aja”. Dimanifestasikannya dengan ucapan, ”Ini sekedarnya saja, Bu. Buat Ibu berlebaran dengan keluarga. Sebagai tanda terima kasih kami karena berkat bantuan Ibu, 200 orang karyawan kami bisa menerima THR tepat waktu dan kami terhindar dari masalah”.

Aku menelan ludah. Sebetulnya aku telah berketetapan hati untuk menjunjung kode etik dan tidak menerima pemberian WP. Tapi tak urung otak manusiawiku mengkalkulasi, kira-kira berapa ya isi amplop itu. Kalo dihitung satu persen saja dari nilai restitusinya, wah, tahun ini bisa lebaran beneran nih.

Lalu kudengar diriku sendiri berkata, “Pak, saya sangat menghargai niat dan maksud baik Bapak. Namun tanpa mengurangi rasa hormat, saya tidak dapat menerima pemberian dari Bapak”.

Kini gantian si Bapak yang melongo dengan shock. Ia tetap berusaha memaksaku menerima amplop itu, namun aku terus menolaknya dengan cara sesantun mungkin. Kami berusaha saling meyakinkan selama lebih kurang setengah jam, setelah itu upayanya makin melemah.

Setelah menemukan tempat berpijak yang lebih pasti ~gestur si Bapak menunjukkan sepertinya ia tidak tersinggung dan mungkin bisa memahamiku~ aku melanjutkan. “Sudah menjadi tugas saya untuk memberi kemudahan kepada Wajib Pajak, baik Bapak, atau siapapun. Gaji saya kan dibayar dari uang pajak yang Bapak bayar. Lagi pula, saat Bapak bilang bahwa saya ikut andil dalam melancarkan pembagian uang THR karyawan Bapak, sudah merupakan hadiah yang tak ternilai bagi saya”.

Si Bapak lantas menatapku lurus-lurus sambil tersenyum. Meski aku tak tahu apa makna senyumnya, namun aku balas tersenyum. Setelah itu, ia menyerah. Kami berbasa-basi sejenak sebelum ia mohon diri. Setelah ia pergi, masih berkelebat di benakku bahwa kalau tadi aku menerima amplop itu, aku kan bisa membagi-bagikan “rizki” itu kepada Pak Satpam, Pak Cleaning Service, dan Pak Mus. Tapi buru-buru kuhalau pikiran jahat itu. Mempertahankan integritas diri memang tidak mudah. Justru di situlah letak pembeda yang membuktikan kualitas diri kita, yaitu ujian-ujian berat semacam ini. Dalam hati aku bersyukur telah diberikan kekuatan oleh Tuhan untuk mempertahankan self integrity-ku. Meski aku tak jadi bertambah harta, namun telah bertambah pengetahuan dan keyakinanku tentang integritas diri.

Kupikir, aku berhak sedikit merasa bangga dengan diriku sendiri karena telah mengambil pilihan yang benar. Paling tidak, rasa bangga itu menjadi penghiburan terbesar bagiku atas “kekecewaan” kecil karena tidak jadi dapat angpaw lebaran.

Sumber : Buku Berbagi Kisah Dan Harapan Perjalanan Modernisasi Direktorat Jenderal Pajak

Baca juga yang ini ya :

About omiyan

Cuman seorang newbie didunia maya, selalu merasa jika berbicara lewat tulisan itu lebih baik daripada kita berbicara tanpa ada jejak dalam sebuah tulisan.

Diskusi

29 thoughts on “Sisi Lain Dari Kehidupan Orang Pajak (2) : Angpaw Lebaran

  1. sebuah cerita yang rasanya seperti hanya ada dalam dunia khayalan tapi saya yakin itu masih ada diantara kehidupan sekarang yang rasanya sukar untuk tidak bisa menolak sebuah rejeki

    omiyan sukses terus dengan blognya saya suka dengan sampeyan ga takut efek negatif dari memposting tentang ini disaat orang lagi berprasangka buruk

    sukses deh dan maju terus

    Posted by kabariberita | 31 Maret 2010, 06:35
  2. kabariberita :

    saya ga ada niatan apa-apa tapi semoga saja cerita-cerita ini bisa menjadi penyeimbang atas opini yang ada mas

    Posted by omiyan | 31 Maret 2010, 06:36
  3. Saya juga pernah menerima curhatan kakak kelas saya yang kerja di gedung keuangan Balikpapan….

    Posted by Budi Mulyono | 31 Maret 2010, 07:19
  4. tersentuh saya, rejeki memang sudah ada yang mengatur…

    Posted by mawi wijna | 31 Maret 2010, 08:21
  5. Saya yakin, masih banyak orang jujur di negeri ini
    Termasuk orang2 Pajak

    Semoga. Ini doa dan harapan😀

    Posted by achoey | 31 Maret 2010, 08:38
  6. Kok belum ada yg pernah kirim angpaw ke saya ya?.

    Posted by marsudiyanto | 31 Maret 2010, 08:52
  7. salam kenal bro.
    pajak merupakan kewajiban, sayangnya saya sendiripun menghindari itu.😦

    Posted by idisuwardi | 31 Maret 2010, 09:39
  8. Kalo disini sih, udah biasa kayak gituan Om. Malah mereka datang langsung ke kantor minta jatah. Atau telpon. Pemilik perusahaan yang notabene orang luar negeri, ya ngasih aja. Biz mereka takut dipersulit. Yang kayak gitu Urat malunya dah pada putus tuh, kayaknya. Tapi pasti masih ada yang baik lah dan lebih suka makan dari yang halal kayak kisah diatas.

    Posted by dewifatma | 31 Maret 2010, 09:39
  9. lah..restitusi bisa dicairkan ya? kok punyaku gak bisa ya?? wehh..Anyway, beruntung bisa menolak, kalau gak, bisa jadi another gayus.. hahaha…

    Posted by kucingkeren | 31 Maret 2010, 10:12
  10. saya setuju kejadian tersebut sangat jarang. namun saya sendiri pernah menemui aparat yang mempermudah urusan masyarakat menolak menerima uang atau imbalan. Saya salut sama si Ibu …Trims atas artikelnya.
    Salam

    Posted by arkasala | 31 Maret 2010, 10:17
  11. Kami salut dengan om iyan tetap berpegang teguh pada kejujuran dan profesionalisme kerja . Semoga keberkahan untuk anda . Memang banyak kisah mengenai ini. dan semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua.amien

    Omiyan : maaf ini bukan tentang saya tapi kisah salah satu pegawai Dirjen Pajak, dan saya posting atas permintaan dari sebuah email kepada saya …. setidaknya dengan kisah ini bisa membuka cakrawala kita jika tidak semua pegawai seperti GT ..

    salam

    Posted by rumahsehatafiat | 31 Maret 2010, 10:44
  12. “sisi lain kehidupan orang bijak/orang pajak” omiyan…he…

    slm kenal dr pendatang baru nih omiyan… blogger baru..he…ngaku2 blogger…ya g’ pp toh ikutan ngeblog…

    tukeran link ya omiyan…tq

    Posted by dayat pribadi | 31 Maret 2010, 11:21
  13. alhamdulillah, ternyata masih banyak yg punya nurani yg baik, bahwa pekerjaannya memang membantu wajib pajak, bahkan tanpa mau menerima sekedar imbalan,
    semoga makin banyak orang2 yg berbudi luhur dan dapat diteladani seperti ibu dikisah diatas.
    salam

    Posted by bundadontworry | 31 Maret 2010, 11:47
  14. pastilah di antara sekian banyak kisah yang mendominasi berita saat ini tentang pajak, masih ada hati nurani yang dengan berani menyatakan tidak

    Posted by sunarnosahlan | 31 Maret 2010, 12:34
  15. cerita yang bagus, memang manusia sulit untuk mengatasi godaan yang datangnya dari diri sendiri dibandingkan godaan yang berhamburan datang dari luar

    salam semoga sehat selalu bersama keluarga

    Posted by citromduro | 31 Maret 2010, 12:52
  16. waduh ketangkap ama si aki atau gimana ya??

    salam aja dari pamekasan madura

    Posted by citromduro | 31 Maret 2010, 12:56
  17. saya berharap masih ada orang yang jujur seperti cerita diatas.. .:)

    salam kenal🙂

    Posted by delia4ever | 31 Maret 2010, 13:35
  18. sekiranya di setiap pintu ada 3 orang seperti itu, mungkin negara kita akan “lain”

    Posted by yusami | 31 Maret 2010, 15:43
  19. Hebat nh….
    Sudah mengeluarkan buku… ^_^

    Posted by Realodix | 31 Maret 2010, 19:26
  20. Semoga saja semakin banyak orang yang masih memiliki hati nurani yang tulus. Ceritanya bagus mas salam kenal sukses selalu

    Posted by Mas Joe | 31 Maret 2010, 20:05
  21. Semoga msh ada orang-orang yang jujur seperti itu di negara kita ini ya..

    Posted by lalangsenja | 1 April 2010, 01:57
  22. om iyan kok jadi ibu-ibu yah…..

    Posted by komuter | 1 April 2010, 02:18
  23. Kejujuran adalah yang terpenting ^___^
    semoga semua orang bisa selalu jujur

    Posted by ♥ria♥ | 1 April 2010, 03:44
  24. panjang banget ceritanya mas
    bacanya ntaran aja deh

    hihihi

    Posted by hellgalicious | 1 April 2010, 06:05
  25. yang cukup susah dijawab oleh orang pajak jujur adalah kalo ditanya :
    “kalo mengetahui ada teman yang ber-praktek kotor, apakah akan melaporkannya?”

    Posted by bacabaca | 1 April 2010, 14:58
  26. kawan2 disini juga terpukul om….

    Posted by ali | 8 April 2010, 08:41
  27. Orang bijak (tidak) bajak pajak

    Posted by Advent Mardani | 8 April 2010, 13:34
  28. wah pajak lagi-pajak lagi. cape deh. sampe-sampe saya buat komik strip tentang pajak. coba liat disini http://thunderblog.web.id/2010/04/komik-strip-1-puk-pajak-untuk-koruptor/

    Posted by Farid | 9 April 2010, 02:12
  29. Howdy, i read your blog from time to time and i own a similar one and i was just wondering if you get a lot of spam remarks? If so how do you stop it, any plugin or anything you can suggest? I get so much lately it’s driving me mad so any support is very much appreciated.

    Posted by internal audit checklist iso 9001 | 15 Juli 2011, 15:20

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

twitter

  • 2,461,056 Sejak 17 Nov 2008

Kategori

Yang Lagi OL

Langganan via Email

Bergabunglah dengan 929 pengikut lainnya

smadav antivirus indonesia

%d blogger menyukai ini: