Sekedar Celoteh

Kisah Tentang Penolakan Sebuah Kebijakan


Cerita ini Membuat saya belajar banyak bagaimana ketika kita mengusulkan sebuah kebijakan yang kita ajukan walau menurut kita akan menguntungkan untuk masa depan tapi belum tentu dapat diterima oleh warga.

Ketika saya masih menjabat sebagai bendahara RT, saya mempunyai kebijakan untuk menaikan iuran bulanan RT yaitu dari 12.000 menjadi 15.000 per bulan, disini saya jelaskan Secara detail alasan tersebut dan alasan utama yang mendasari adalah bahwa saat ini di rt saya sudah dibangun sebuah gudang dan kita mengharapkan agar gudang tersebut bisa segera diisi dengan perlatan dan perlengkapan untuk keperluan warga.

Adapun pertimbangan kenaikan iuran tersebut adalah :

Jika tetap dengan iuran yang ada sekarang yaitu Rp. 12.000 maka untuk mewujudkan pembelian barang-barang semaca tenda, kursi dan yang lainnya akan memakan waktu lama dan itu bisa dibilang sulit untuk direalisasikan mengingat pengeluaran yang sekarang berjalan hampir mendekati pemasukan jadi ketika akhir bulan kas RT paling banyak tersisa Rp. 50.000 atau Rp. 100.000 dan itu belum untuk mengantisipasi jika ada keperluan yang bersifat mendadak misalkan warga sakit atau untuk kelahiran.

Nah dalam mengajukan angka kenaikan tersebut saya memberikan beberapa opsi yaitu kenaikan menjadi Rp. 13.000, Rp. 14.000 dan Rp. 15.000, untuk angka Rp. 15.000 saya sesuaikan dengan iuran di rt lain yang memang sudah naik sebelumnya.

Disini saya memberikan asumsi jika kenaikan angka sekian dengan pengeluaran sekian maka untuk membeli barang-barang tersebut akan didapat dalam jangka waktu sekian. Saya lebih menekankan ke angka 15.000 karena dengan kenaikan 3.000 perbulan banyak barang yang bisa didapat dalam jangka waktu setahun apalagi ditambah jumlah warga yang banyak karena beberapa tetangga yang berada di Cluster masih tergabung dengan rt saya sekarang maka dengan jumlah warga yang banyak bisa dibayangkan kas yang didapat oleh kenaikan tersebut sebelum mereka  (yang tinggal di cluster) memisahkan diri membentuk rt lagi.

Tapi ternyata banyak warga yang tidak setuju dengan alasan :

Jangankan Rp. 15.000 dengan iuran sekarang saja yaitu Rp. 12.000 masih banyak warga yang menunggak … “

Memang bisa diterima, tapi yang saya kedepankan adalah memotivasi warga untuk mempunyai niat memiliki barang-barang inventaris milik warga yang dikelola RT terutama untuk mengantisipasi mahalnya sewa tenda ketika musim sunatan atau acara-acara hajatan lainnya, selain itu kelak akan menjadi pendapatan rt karena bisa diewakan ke rt lainnya.

Akhirnya saya mengalah dan tidak memaksakan kebijakan tersebut, walau diantara beberapa warga bisa menerima dan setuju karena mereka mempunyai pikiran yang sama dengan saya yaitu lebih baik iuran sekarang kita naikkan daripada nanti-nanti dinaikkan tapi barang yang diinginkan sudah keburu naik.

Akhirnya gudang yang sudah berdiri sampai sekarang belum terisi apa-apa dan sepertinya tidak ada motivasi untuk bisa mengisinya, akhirnya disekitar tahun 2009 saya memutuskan mengundurkan diri bukan karena usulan kenaikan saya tidak diakomodir warga tapi karena saya melihat masih ada bentuk ketidak percayaan beberapa warga terhadap pengelolaan kas oleh saya  (mungkin ini bisa jadi faktor utama kenapa usulan saya tidak diterima) padahal laporan tiap bulan saya buat se-terbuka mungkin.

Dan orang-orang yang menolakpun tidak pernah memberikan solusi bagaimana caranya untuk bisa mengisi gudang yang sudah ada.

Namun ada yang selalu mengganjal dihati saya sampai sekarang…

” Mereka yang menolak rencana kenaikan Rp. 15.000 per bulan ternyata sanggup membeli rokok sebungkus setiap harinya dengan harga Rp. 9.000 – 10.000 “

Cerita ini semoga bisa memberi hikmah bahwa ketika sebuah kebijakan walau menurut kita baik dan menguntungkan belum tentu diterima masyarakat dan yang terpenting adalah sebelum keputusan itu ditetapkan sebaiknya diserahkan dulu kepada warga atau masyarakat yang nantinya menjalaninya karena  ketika mereka semua setuju sudah pasti tujuan kebijakan tersebut akan bisa direalisasikan dengan cepat karena banyak dukungan tapi lain hal ketika tidak disetujui oleh  masyarakat yang ada hanyalah penolakan.

Dan hal positif yang saya dapat setelah melepaskan jabatan sebagai Bendahara RT adalah pikiran saya jadi lebih tenang dan tidak terbebani dengan hal-hal yang berbau kas RT.

Alhamdulillah

Kejadian ini saya alami pada tahun 2008

About omiyan

Cuman seorang newbie didunia maya, selalu merasa jika berbicara lewat tulisan itu lebih baik daripada kita berbicara tanpa ada jejak dalam sebuah tulisan.

Diskusi

12 thoughts on “Kisah Tentang Penolakan Sebuah Kebijakan

  1. (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    Itulah anehnya. 15 ribu perbulan gak sanggup. Tapi kalau beli rokok 10 ribu perhari ringan banget.

    Posted by alamendah | 2 Agustus 2010, 06:10
  2. Very interesting article, thanks. Keep up the good work.

    Posted by the Success Ladder | 2 Agustus 2010, 07:13
  3. ah dasar orang sekarang sukanya merokok semua
    diajak baik ya susah kalao orientasinya bagaimana bisa ngerokok buat besok
    hmmmm

    Posted by deady | 2 Agustus 2010, 09:58
  4. memegang tanggung jawab memang sangat sulit ya mas, apalagi yang berhubungan dengan duit, kita udah bener, masih juga gak dipercaya. tragisnya kita serius pikirin yang terbaik, eh dengan gampangnya mereka menolak tanpa alasan yang jelas. 15rb buat amal kok berat bgt, tapi 10rb buat bikin penyakit santai bgt keluarinnya,, hadoooh bahaya nih…!!! heheh… salam kenal mas,,🙂

    Posted by advertiyha | 2 Agustus 2010, 10:16
  5. intinya ga mau iuran klo ga kerasa menguntungkan bagi mereka.
    Kaya merokok yang kerasa ga merugikan buat mereka…
    Klo gitu masyarakat kita pikirannya pendek semua donk ya…
    Hohohoho

    Posted by Ayam Cinta | 2 Agustus 2010, 13:34
  6. rokok mengalahkan segalanya…….. Mantabzzzzzzzz hehehe🙂

    Posted by phy | 2 Agustus 2010, 14:00
  7. Memang susah kalo sifatnya iuran untuk kepentingan bersama walaupun sebulan sekali, ironinya kalo untuk keperluan diri sendiri gampang saja. ya, seperti buat beli rokok ntu.

    Posted by Mood | 2 Agustus 2010, 14:37
  8. orang memang cenderung gak mau ngeluarin duit buat kepentingan umum dan hanya mau nrimo semua beres, tapi untuk kepentingan dia sendiri bisa kok ngeluarin duit lebih. di kajian ekonomi pembangunan ini dikenal dengan nama free rider😀

    Posted by Red | 2 Agustus 2010, 16:34
  9. ini sepertinya penyakit orang indonesia saat , semangat gotong-royong itu semakin hilang bahkan cenderung individualis. Makanya gak maju-maju

    Posted by saenaknya | 2 Agustus 2010, 23:30
  10. wah ini RT yang benar-benar menerima aspirasi warganya, ditempat saya tau2 sudah ditetapkan aja untu perbaikan jalan harus 150rb/kk, padahal kk itu ada yang belum punya kendaraan, ada yg mobilnya lebih banyak dari jumlah kepala dirumahnya, udah ada yg menanyakan kebijakan langsung malah dibilangin ga mampu, miris juga.

    Posted by ysalma | 3 Agustus 2010, 02:43
  11. “Nice artikel, inspiring ditunggu artikel – artikel selanjutnya, sukses selalu, Tuhan memberkati anda, Trim’s :)”

    Posted by Yohan Wibisono | 5 Agustus 2010, 07:29

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: RAPORT DENGAN EXCEL | www.budies.info - 6 Agustus 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

twitter

  • 2,461,056 Sejak 17 Nov 2008

Kategori

Yang Lagi OL

Langganan via Email

Bergabunglah dengan 929 pengikut lainnya

smadav antivirus indonesia

%d blogger menyukai ini: