Tak Berkategori

Dalam Sebuah Catatan dan Doa…..


Sore yang mendung membuat aku malas untuk mengerjakan apapun, lampu kamar yang cuma 5 watt membuat aku teringat ade dan kakakku yang dulu sering berkumpul dan bercanda dikamar ini tapi kini semua sudah berubah, seiring kami dewasa mereka sudah menemukan hidupnya masing-masing.

Rumah ini terasa besar karena sekarang cuma aku dan ibuku yang tinggal, dan kondisi ibu sudah sakit karena termakan usia.

Ku dekati ranjang dimana ibu berbaring, wajahnya sekarang terlihat tenang setelah siang tadi sempat mengalami muntah-muntah.

Ingin rasanya aku melihat ibu sehat seperti dulu, selalu bisa memeluk dan mencium keningnya.

Sambil menunggu adzan Maghrib kubuka buku diare yang berisi curhatku selama ini :

5 januari. ….

Tanpa diperintah oleh siapapun bunda senantiasa tampil sebagai orang pertama yang berada disamping anaknya baik ketika menyusui, memandikan, memakaikan pakaian, membersihkan kotoran atau untuk jalan-jalan dipagi dan sore hari.

Terkadang ketika dirinya sakit bunda seperti tidak merasakan rasa sakit yang dideritanya, bahkan pekerjaan rutinpun dia tetap melakukannya.

Bahkan bunda tetap membantu ayah untuk mencari nafkah dipagi hingga siang hari, dan sorenya mempersiapkan untuk keperluan rumah tangga merawat anak dan melayani ayah.

Setelah anaknya dewasa…..

Bunda senantiasa memperhatikan kondisi pergaulanan anak-anaknya, tetap seperti dulu selalu mempersiapkan keperluan anaknya tanpa lelah yang selalu tersirat diwajahnya.

Kadangpula Bunda hanya bisa beristirahat ketika semua sudah terlelap tidur dan disitulah dirinya bisa merasakan keheningan sejenak untuk merenggangkan otot yang terasa pegal tanpa harus meminta dipijat oleh suami atau anak-anaknya.

Kini ketika anaknya telah menikah ….

Bunda seperti menjadi penitipan bayi, dikala kita kerja bahkan menjadi seorang penjaga menemani simba pengasuh.

Tak pernah sedikitpun dirinya ingin tidak diganggu tidurnya oleh suara tangisan bayi atau sikap rewel anak kita.

Bunda menjadi sosok pelindung buat cucunya.

Dirinya tetap menjadi seorang “pelayan” buat anaknya yang selalu menyiapkan minum dan makan buat anaknya berangkat kerja tanpa terbesitpun meminta kebalikannya.

Sepertinya tak pernah ada perasaan lelah untuk bisa membuat anaknya tersenyum, walau terkadang kita melontarkan kata-kata yang menyakitkan karena hal sepele.

Menjadi seorang Ibu memang berat tapi dirimu begitu suci untuk disakiti…

Bahkan sekarang dikala dirimu sakit tak pernah meminta untuk diobati dan hanya selalu mengatakan sebentar lagi ibu juga sehat.

Aku segera beranjak untuk mengambil air wudhu dan menutup buku diare karena adzan dari Mushola diseberang rumah sudah berkumandang.

Kini kupasrahkan semuanya kepada-Mu ya Allah, dipenghujung hari ini aku selalu berharap diriku bisa membuatnya tersenyum, bisa membuatnya tenang, bisa membuatnya bahagia.

Aku bersimpuh dihadapan-Mu, kumohon berikanlah kesehatan kepada ibuku …..

Dalam sebuah sujud tiba-tiba bayangan wajah ayah muncul dan tersenyum………

About omiyan

Cuman seorang newbie didunia maya, selalu merasa jika berbicara lewat tulisan itu lebih baik daripada kita berbicara tanpa ada jejak dalam sebuah tulisan.

Diskusi

9 thoughts on “Dalam Sebuah Catatan dan Doa…..

  1. semoga keadaan Ibu berangsur membaik ya Kang…

    Posted by mawi wijna | 28 September 2010, 04:35
  2. (Maaf) izin mengamankan KEDUAX dulu. Boleh, kan?!
    Semoga sang Ibu segera diberikan kesehatan dan kesembuhan.

    Posted by alamendah | 28 September 2010, 11:41
  3. om ceritanya asyik, walau fiksi tapi dikenyataan sendiri ada seperti itu bahkan banyak, ceritanya menyentuh banget

    Posted by rena | 28 September 2010, 13:04
  4. ini fiksi ato beneran mas??

    semoga ibunda cpt sembuh ya mas..

    Posted by fitrimelinda | 28 September 2010, 14:12
  5. bukanlah beban, tapi suatu kewajiban kau membiayai anak2 mu sebab memang itu tanggung jawab mu.
    Bukanlah beban, tapi suatu kewajiban kau mengurus orang tua mu yang telah renta walau kau mempunyai anak yang yang juga harus kau urus sebab memang itu tanggung jawab mu.
    Dalam keterbatasan kita dan kelemahan kita, sungguh ada zat yang tak pernah bosan memenuhi kekurangan dan menutupi kelemahan kita, walau kadang kita lupa bahkan bosan untuk meminta nya

    Posted by bang zul | 29 September 2010, 02:18
  6. semuanya ini hanyalah sebuah kisah fiktif…yang ada dalam bayangan saya sendiri

    thanks ya

    Posted by omiyan | 29 September 2010, 05:26
  7. meski fiksi, namun menggugah hati.bunda di hati manusia manapun yang mau berpikir adalah sama. mulia. dan yg ingin dilakukan adalah bagaimana membahagiakannya. aku kembali omiyan…ketemu lagi.mampir2 ke rumahku yaaa

    Posted by jenkna | 2 Oktober 2010, 09:43
  8. Ceritanya cukup menyedihkan, ini fiksi atau fakta ya

    Posted by asuransi pendidikan | 8 Juli 2015, 19:03

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

twitter

  • 2,461,056 Sejak 17 Nov 2008

Kategori

Yang Lagi OL

Langganan via Email

Bergabunglah dengan 929 pengikut lainnya

smadav antivirus indonesia

%d blogger menyukai ini: