Gowes Sepeda yuk

Gowes ke Gunung Karang – Batu Quran Cikoromoy – Air Panas Cisolong Pandeglang (bag. 2 – tamat))


Cerita sebelumnya……

Lepas dari hutan, jalanan terus menurun meliuk-liuk sebelum akhirnya diberi satu tanjakan untuk sampai di sebuah warung di Desa Campaka, di sini kami mengisi air minum, waterbag yag berisi 2 liter air sudah kosong sejak keluar dari hutan. Perjalanan berlanjut menuju Kadubungbang untuk mencapai tujuan pertama , yaitu Situs Batu Quran-Cikoromoy.

Jalanan dari Campaka menurun tajam, sehingga tidak sampai 15 menit kami sampai di Jalan Raya Pandeglang-Mandalawangi, untuk kemudian berbelok ke kanan ke arah Barat, hanya sekitar 300 m menyusur jalan raya ini kami sampai di pertigaan Cikoromoy, Kadubungbang, dan kami belok ke sini untuk menuju Situs Batu Quran.

Jalanan tetap menurun sehingga bisa mekuncur deras, diselingi dengan denting bel sepeda karena banyak kerumunan anak sekolah yang usai belajar berjalanan menuju rumah.

Kami pun tiba di Situs Batu Quran, sepeda dibawa masuk dan dititip ke salah satu warung oleh-oleh. Di sini kami hanya mengisi sumbangan sukarela untuk kemudian menuju kolam dimana Batu Quran berada. Kesan kusam dan kurang terawat di samping air pemandian yang keruh mengurangi selera untuk melihat. Semula kami membayangkan bahwa Batu Quran ini adalah batu yang ada tulisan ayat-ayat suci, ternyata bukan. Menurut juru kunci, kisah ini berawal dari mata air di Cikoromoy ini yang jika tidak ditutup akan menenggelakan kota Pandeglang, oleh karena itu salah satu Syeh dari Arab menggunakan Al Quran untuk menutup mata air itu, Al Quran tersebut tiba-tiba berubah menjadi batu, sehingga menutup mata air yang mengalir deras dan mata airnya hanya mengucur seperti sekarang. Demikian kisah yang kami dengan dari juru kunci.

Kami pun tiba di Situs Batu Quran, sepeda dibawa masuk dan dititip ke salah satu warung oleh-oleh. Di sini kami hanya mengisi sumbangan sukarela untuk kemudian menuju kolam dimana Batu Quran berada. Kesan kusam dan kurang terawat di samping air pemandian yang keruh mengurangi selera untuk melihat. Semula kami membayangkan bahwa Batu Quran ini adalah batu yang ada tulisan ayat-ayat suci, ternyata bukan. Menurut juru kunci, kisah ini berawal dari mata air di Cikoromoy ini yang jika tidak ditutup akan menenggelakan kota Pandeglang, oleh karena itu salah satu Syeh dari Arab menggunakan Al Quran untuk menutup mata air itu, Al Quran tersebut tiba-tiba berubah menjadi batu, sehingga menutup mata air yang mengalir deras dan mata airnya hanya mengucur seperti sekarang. Demikian kisah yang kami dengan dari juru kunci.

Situasi pemandian ini cukup ramai, terutama oleh Ibu-Ibu kelompok pengajian maupun majelis taklim, ada beberapa pengunjung yang mandi dan berenang mengelilingi Batu Quran seperti melakukan tawaf. Di Cikoromoy ini odometer menunjukkan angka 22 km.

Tidak lama berada di sini karena memang tidak ada sesuatu yang unik dan menarik, kami pun melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya ke air panas Cisolong. Melalui jalanan Cikoromoy ke arah selatan, kami berbelok ke jalan kecil yang membelah perkampungan, suara gemericik air di kali kecil dari mata air Cikoromoy cukup membuat suasana menjadi tentram. Jalanan terus menurun tajam sampai melewati jembatan barulah dihadang tanjakan sungguh curam, sehingga dengan mengeluarkan sisa tenaga kami pun bisa menaiki tanjakan Cikoromoy ini, meski beberapa rekan ada yang terpaksa TTB mengingat curamnya tanjakan.

Perjalanan mengarah ke CImanuk, dan yang menarik adalah pada hari ini kami ada 6 kali menjumpai pesta perkawinan yang sampai melebar ke jalanan, bahkan ada satu jalan yang ditutup karena ada pesta perkawinan sehingga kami pun harus memutar untuk menuju Cimanuk.

Di kecamatan Cimanuk, kami banyak melintasi persawahan yang menghijau dengan jalan desa berupa makadam. Perjalanan masih berlanjut sampai desa Kadudodol, satu hal menarik..saking sepinya jalan desa Kadudodol ini kami tidak menjumpai satu orang pun di perjalanan tengah sawah ini.

Perjalanan akhirnya disambut dengan satu tanjakan aduhai sebelum akhirnya berbelok ke kiri menyusuri bekas rel kereta api Labuan-Pandeglang. Rel masih terlhat utuh namun bantalan kayu sudah lenyap, bahkan di atas rel dan kiri kanannya mulai berdiri rumah-rumah semi permanen. Perjalanan di jalan setapak menyusuri bekas rel ini cukup mengasyikkan sampai melintasi sebuah jembatan KA lapuk yang hanya ditutup belahan batang kelapa, kami pun menuntun sepeda untuk amannya. Setelah beberapa saat kami mengambil jalan setapak ke kiri menuju Desa Sukamanah.

Jalan setapak berbatu dengan sawah di kiri kanan menghiasi perjalanan ke arah Sukamanah, sebelum akhirnya sempat diguyur hujan yang turun mendadak yang menyebabkan kami harus berteduh beberapa saat di gubug yang ada di tengah sawah. Sekitar 20 menit kami berdiam diri di gubug menunggu hujan reda.

Begitu hujan reda kami pun menuju Sukamanah dengan gowes santai karena jalan yang licin, profil jalan yang menanjak landai tapi panjang menyebabkan satu peserta om Nando kakinya kram.

Dari Sukamanah kami berbelok ke kanan menuju Kp Cisolong dimana berada sumber air panas dari kaki Gunung Karang.

 Tidak nampak ada gerbang khusus, selain papan bertuliskan “Jangan wariskan air mata, tapi wariskan mata air kepada anak cucu kita”.

Jalanan setapak menuju kolam air panas menurun tajam, sepedapun dengan gesit meliuk mengikuti jalanan tersebut hingga di depan loket, cukup Rp. 5000,- saja untuk berendam sepuasnya.

Suasana terlihat agak lengang, hanya beberapa pengunjung yang berendam. Suasana yang meski sederhana namun bersih dan teratur dilengkapi dengan saung-saung untuk beristirahat menyambut, dan kami pun segera melepas kepenatan di sini, berganti baju, shalat, memesan minuman dan tentu…berendam air panas.

Ada beberapa kolam di sini, mulai yang sangat panas hingga 70 derajat C sampai yang sedang. Rupanya kolam air panas ini dikelola swasta, tepatnya sebuah hotel di Pandeglang, terlihat dari dari baju seragam para karyawan di situ yang semuanya bertuliskan Hotel Pandeglang, pantas jika dikelola swasta, karena terlihat cukup apik meski sederhana.

Berendam di air panas memang menyenangkan, segala kepenatan seakan sirna, kram yang tadi mendera om Nando juga lenyap begitu air panas mengandung belerang ini menerpa tubuh.

Sayang sumber air panas ini tampaknya kurang promosi, sehingga nama Air Panas Cisolong tidak terlalu dikenal, bahkan oleh masyarakat Pandeglang sendiri.

 Sekitar satu jam di sini kami pun menuntaskan perjalanan pulang, di Cisolong odometer menunjukkan 31 km. Perjalanan menuju parkir di CAS Waterpark hanya 8  menit menempuh jarak 3 km, melalui jalanan kampung di Sukamanah dan Ciputri.

Total perjalanan hari ini 34 km dengan finish di parkiran jam 14.30.

Sungguh suatu perjalanan yang menyenangkan, semua rute yang direncanakan ternyata berhasil ditempuh dengan benar dan tujuan di Batu Quran dan air panas Cisolong pun terpenuhi. Masih banyak tujuan dan rute bersepeda di Banten yang belum terjamah. Mari kita telusuri lagi, rute-rute menantang di seputaran Banten.

Sumber tulisan : Gowes ke Gn Karang-Batu Quran Cikoromoy-air panas Cisolong, PandeglangEko Siswanto

About omiyan

Cuman seorang newbie didunia maya, selalu merasa jika berbicara lewat tulisan itu lebih baik daripada kita berbicara tanpa ada jejak dalam sebuah tulisan.

Diskusi

10 thoughts on “Gowes ke Gunung Karang – Batu Quran Cikoromoy – Air Panas Cisolong Pandeglang (bag. 2 – tamat))

  1. wah, menarik, selepas nanjak di gunung keramat, bertemu mata air keramat pula, wah-wah menarik sekali…

    Posted by mawi wijna | 17 November 2011, 09:31
  2. Semakain menarik cerita pengalamannya Mas dalam petualangannya berwisata dengan sepeda.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

    Posted by Ejawantah's Blog | 17 November 2011, 20:09
  3. Wow, seru petualangannya Om. Kalau sy malah belum punya sepeda nih Om..😦

    Posted by dira | 21 November 2011, 10:15
  4. kunjungan awal saalm kenal gan..

    Posted by Obat Herbal Nyeri Sendi | 21 November 2011, 13:51
  5. seu banget perjalananya,.!!

    Posted by obat tradisional gagal ginjal | 21 November 2011, 14:00
  6. waahhh,,daerah pandeglang ya,,mantepppss,,,,,,
    pandeglang memang indah,,salam kenal dari sesama pandeglang nih,,

    Posted by Cara Mengobati Penyakit Gagal Ginjal Secara Alami | 21 November 2011, 14:24
  7. hanya ingin mengikuti postingan agan .
    postingan yang menarik
    nice gan .

    sempatkan mampir ke website kami
    http://www.hajarabis.com

    Posted by hajarabis | 21 November 2011, 16:27
  8. postingan yang menarik
    nice gan .

    sempatkan mampir ke website kami
    http://www.hajarabis.com

    Posted by hajarabis | 22 November 2011, 16:27
  9. kota”PANDEGLANG” yang taman wisata cikoromoy dan gunung karang begitu indah,hamparan sawahnya luas membentang membuat siapapun yang pernah kesana pasti terpesona

    Posted by erwin juanda | 19 Desember 2011, 09:43
  10. hujan gede beliung angin dingin pasar mlem ya

    Posted by ii_271028pandeglang | 12 Februari 2012, 20:14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

twitter

  • 2,465,694 Sejak 17 Nov 2008

Kategori

Yang Lagi OL

Langganan via Email

Bergabunglah dengan 930 pengikut lainnya

smadav antivirus indonesia

%d blogger menyukai ini: